Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut memberikan respons pihak yang melontarkan kritik atas aksinya yang terbang ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi.
KDM sapaan akrabnya, meminta pihak yang kecewa tersebut untuk bersabar karena dirinya memilih terbang ke NTT saat libur.
"Bagi yang lagi patah hati, marah-marah karena saya pada saat libur pergi ke Nusa Tenggara Timur, mohon disabarkan," katanya, seperti dikutip Selasa (25/8/2026).
Baca Juga: Jawa Barat Masih Punya PR, Dedi Mulyadi Cari Panggung ke NTT: Sindrom Selebritis
Lanjutnya, ia mengaku kehadirannya di NTT bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan membantu masyarakat yang terdampak gempa dan membawa bantuan dari Jawa Barat.
"Karena pada saat ada saudara kita yang kena musibah, sebaiknya kita sibuk membantu yang terkena musibah, bukan sibuk mengomentari yang sedang membantu orang yang musibah," tegasnya.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Terbang ke NTT, Emang Jawa Barat Bebas Masalah?
Diketahui, KDM terbang menuju NTT bersama Wali Kota Depok Supian Suri pada Jumat, 21 Agustus 2026. Keduanya datang membawa bantuan untuk masyarakat yang terdampak gempa di wilayah tersebut.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurniansyah menyoroti aksi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang terbang ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu korban bencana gempa bumi.
"Memberi bantuan itu baik, yang buruk adalah muatan pencitraan dan hal yang kurang perlu," ujarnya seperti dikutip Senin (24/8).
Ia menilai kehadiran KDM bersama rombongan yang besar justru tidak efisien. Justru dirinya menduga kehadiran langsung tersebut lebih terlihat cara KDM membangun citra sebagai pemimpin yang dekat kepada rakyat.
Karena itu, dirinya menyebut jika hal tersebut sebagai fenomea 'sindrom selebritis', yang haus dengan pujian dan simpati publik.
"Tentu tidak sebanding dengan pemimpin daerah lain yang sama-sama membantu, tetapi tidak dijadikan kepentingan politik populis," tambahnya.
Namun begitu, ia menegaskan bahwa KDM mempunyai hak melakukan kegiatan sebagai kepala daerah. Pihaknya menegaskan kepada publik agar tidak terjebak pada citra yang ditampilkan di media sosial.
"Publik harus tetap memahami jika Dedi Mulyadi punya hak melakukan apapun tetapi jangan sampai terlena dengan hasil hiasan media sosial," ujarnya.