Bagi sebagian perempuan, keputusan untuk memiliki anak tidak selalu bisa mengikuti 'am biologis' atau linimasa kehidupan yang ideal. Karier, hubungan, kondisi finansial, hingga prioritas pribadi dapat memengaruhi kapan seseorang merasa siap untuk hamil.
Dalam kondisi tersebut, pembekuan sel telur (egg freezing) dapat menjadi salah satu pilihan untuk mempertahankan peluang memiliki anak di masa depan. Namun, prosedur ini bukan jaminan kehamilan.
Usia saat sel telur dibekukan tetap menjadi salah satu faktor penting karena jumlah dan kualitas sel telur secara alami menurun seiring bertambahnya usia.
Selain itu, perempuan yang menjalani prosedur ini juga perlu menyesuaikan aktivitas sehari-hari, termasuk olahraga, selama masa stimulasi ovarium dan pemulihan.
Dan, dikutip dari Times of India, Selasa (1/9/2026), berikut sejumlah hal penting yang perlu diketahui sebelum mempertimbangkan pembekuan sel telur.
Apakah Usia 30, 35, atau 40 Tahun Merupakan Waktu yang Tepat?
Tidak ada satu patokan usia yang berlaku untuk semua perempuan ketika membicarakan pembekuan sel telur.
Kesuburan perempuan secara bertahap mulai menurun sekitar usia 30 tahun dan penurunannya cenderung semakin nyata pada pertengahan usia 30-an. Seiring bertambahnya usia, jumlah sel telur berkurang dan kualitasnya juga dapat menurun. Pada saat yang sama, risiko kelainan kromosom pada sel telur meningkat.
"Pada usia sekitar 30 tahun, wanita umumnya memiliki keuntungan karena sel telur mereka masih 'lebih muda' dan, secara rata-rata, memiliki potensi reproduksi yang lebih baik," papar Dr. Manika Khanna, Pendiri dan Direktur Medis Gaudium IVF.
Meski demikian, pernyataan tersebut bukan berarti semua perempuan berusia 30 tahun perlu melakukan pembekuan sel telur.
Bagi perempuan yang memiliki rencana untuk menunda kehamilan selama beberapa tahun, konsultasi mengenai pelestarian kesuburan sejak lebih awal dapat membantu memahami pilihan yang tersedia.
Memasuki usia 35 tahun, keputusan untuk membekukan sel telur menjadi semakin individual dan perlu mempertimbangkan kondisi reproduksi masing-masing.
Sementara pada usia 40 tahun, prosedur pembekuan sel telur masih mungkin dilakukan. Namun, secara umum, peluang untuk memperoleh sel telur berkualitas baik dalam jumlah yang memadai cenderung lebih rendah dibandingkan ketika prosedur dilakukan pada usia yang lebih muda.
Karena itu, Dr. Khanna mengingatkan bahwa pembekuan sel telur tidak boleh dipandang sebagai jaminan kehamilan.
"Pembekuan sel telur sebaiknya tidak dianggap sebagai polis asuransi yang menjamin kehamilan di masa depan."
Keberhasilan pada akhirnya dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk usia ketika sel telur dibekukan, jumlah sel telur matang yang berhasil disimpan, serta kemampuan sel telur tersebut untuk bertahan setelah dicairkan dan berkembang menjadi embrio.
Mengapa Olahraga Perlu Disesuaikan?
Selama proses pembekuan sel telur, perempuan biasanya mendapatkan obat-obatan untuk merangsang ovarium agar menghasilkan beberapa folikel sekaligus.
Seiring berkembangnya folikel, ovarium dapat membesar dan menjadi lebih sensitif. Kondisi inilah yang membuat aktivitas fisik tertentu perlu dikurangi untuk sementara.
"Olahraga tidak merusak sel telur," terang Dr. Manjunath CS, Spesialis Kesuburan di Birla Fertility & IVF, Bangalore.
Namun, ia menjelaskan bahwa gerakan dengan intensitas tinggi atau gerakan memutar tubuh dapat memberikan tekanan berlebih pada ovarium yang sedang membesar.
Dalam kasus yang jarang terjadi, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko torsi ovarium, yaitu keadaan ketika ovarium terpelintir pada jaringan penyangganya.
Karena itu, jenis olahraga selama proses stimulasi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh dan perkembangan folikel.
Baca Juga: Masih Dianggap Tabu, CEO Smart Fertility Clinic Jelaskan Fakta tentang Program IVF