dr. Tirta bilang, inilah alasan mengapa dalam dunia fitness dikenal sistem pembagian latihan seperti push, pull, leg, dan accessory.

Pola tersebut dibuat agar setiap kelompok otot memiliki jeda waktu untuk beristirahat sebelum kembali digunakan dalam latihan berikutnya.

“Push, pull, leg, aksesoris. Biar ototnya tuh ada jeda untuk recover,” jelas dr. Tirta.

dr. Tirta juga menekankan bahwa kemampuan recovery setiap orang berbeda-beda, terutama seiring bertambahnya usia. Semakin tua seseorang, maka semakin lama pula waktu yang dibutuhkan tubuh untuk pulih setelah berolahraga.

Karena itu, lanjut dr. Tirta, orang yang memasuki usia 40 hingga 50 tahun biasanya perlu mengatur pola latihan dengan lebih bijak dan tidak memaksakan intensitas berat setiap hari.

“Buat orang-orang yang semakin tua, biasanya dia ada waktu rest, atau olahraganya intensitasnya diatur. Ringan, sedang, berat, sedang, ringan,” tuturnya.

Menurut dr. Tirta, memaksakan latihan berat tanpa jeda hanya akan membuat tubuh mengalami kelelahan berkepanjangan.

Kondisi ini, kata dia, dapat menyebabkan penumpukan fatigue, mengganggu kualitas tidur, meningkatkan hormon stres kortisol, hingga membuat otot lebih rentan cedera.

Bahkan dalam kondisi tertentu, kelelahan berlebihan juga bisa berdampak pada kesehatan jantung.

“Kalau kamu intensitasnya berat tiap hari, itu nanti akan merugikan dirimu sendiri. Selain fatigue-nya numpuk, mengganggu pola tidur, kortisolnya naik, ototnya malah jadi rentan cedera. Dan kelelahan jantung jadinya serangan jantung,” tandasnya.

Baca Juga: Nyeri Pinggang Belum Tentu Ginjal, Dokter Tirta Jelaskan Berbagai Penyebab Lower Back Pain