Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya menandai pergeseran mendasar dalam cara negara memandang pengembangan seni dan kebudayaan. Tidak lagi sebatas ruang ekspresi atau perayaan karya, pembinaan talenta kini ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional jangka panjang.
Sebagai bagian dari penguatan agenda tersebut, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menggelar pagelaran “MTN Wave: Gelombang Talenta Seni Budaya Indonesia” di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (11/2/2026). Acara ini diposisikan sebagai ruang perayaan sekaligus refleksi atas perjalanan pembinaan seni budaya skala nasional yang terintegrasi dengan visi Indonesia Emas 2045.
Baca Juga: Seni dan Dialog: Memperingati Hari Kanker Sedunia Lewat Pameran dan Talk Show Edukatif
MTN Wave menandai babak lanjutan dalam pembinaan talenta seni budaya yang tidak lagi dipahami sebagai program seremonial tahunan. Inisiatif ini dirancang sebagai ekosistem berkelanjutan yang menghubungkan identifikasi, pembinaan, hingga pengembangan karier talenta lintas generasi dan sektor.
Menteri Kebudayaan RI, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., menegaskan bahwa MTN bukanlah program sementara, melainkan bentuk kehadiran negara dalam merawat potensi seni budaya secara berkelanjutan.
“Negara hadir bukan hanya untuk merayakan talenta, tetapi juga untuk merawatnya lintas zaman, sektor, dan generasi. Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia memiliki potensi talenta luar biasa, dan melalui MTN kami berupaya mengidentifikasi, membina, serta menghubungkan talenta unggul tersebut,” ujarnya.
Baca Juga: Menbud Fadli Zon Dorong Pemetaan Talenta Seni Berbasis Talent DNA
Pendekatan ini memiliki landasan struktural dalam desain kebijakan MTN yang diposisikan sebagai bagian dari prioritas nasional. Kementerian Kebudayaan bertindak sebagai koordinator bidang seni budaya untuk memastikan pembinaan berjalan berkelanjutan dan terintegrasi.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Ahmad Mahendra, menegaskan bahwa MTN memiliki mandat strategis dalam pembangunan nasional, khususnya dalam melahirkan talenta unggul lintas disiplin seni sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045.
Implementasi MTN sepanjang 2025 menunjukkan jangkauan program yang luas. Pembinaan tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi menjangkau berbagai daerah melalui kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, serta komunitas seni budaya. Program ini mencatat sejumlah capaian, antara lain menjangkau lebih dari 36,9 juta anak muda, melibatkan 5.711 talenta dalam trajektori MTN, serta menjalankan 208 program kolaboratif di 58 kabupaten/kota dan 19 negara melalui 28 program internasional. Sebanyak 116 talenta juga tercatat memperoleh rekognisi global.
Baca Juga: Merayakan Seni dan Mode, Sejauh Mata Memandang x Eko Nugroho Bawa 'Republik Sebelah Mata' ke Jogja
Pada tingkat bidang, capaian terlihat di berbagai sektor, yakni film melibatkan 5.750 talenta dengan partisipasi di festival internasional; sastra menjangkau lebih dari 7.500 talenta dengan karya yang diakuisisi penerbit luar negeri; musik membina hampir 19 ribu talenta; seni pertunjukan membawa talenta ke panggung festival luar negeri; dan seni rupa melibatkan ribuan kreator serta menarik puluhan ribu pengunjung pameran.
Secara nasional, MTN Seni Budaya kini hadir di puluhan kabupaten/kota dengan melibatkan ratusan mitra komunitas, festival, serta asosiasi. Jaringan kerja sama internasional juga diperluas, menandai pembinaan talenta yang tidak lagi sporadis, melainkan terstruktur dalam ekosistem yang terencana.
Dalam gelaran MTN Wave, Ahmad Mahendra menekankan bahwa pembinaan talenta dilakukan secara berjenjang melalui trajektori yang jelas. Pendekatan ini menjadi pembeda utama dibanding program sebelumnya karena talenta diarahkan menuju pengembangan karier berkelanjutan hingga peluang rekognisi internasional.
Baca Juga: Suguhan Kesenian Indonesia Sambut Delegasi Luar Negeri ASEAN di Taman Asia Afrika
Dari perspektif perencanaan pembangunan, Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas menilai MTN sebagai instrumen strategis pembangunan sumber daya manusia. Seni budaya diposisikan sebagai modal sosial sekaligus investasi jangka panjang bangsa.
Dukungan juga datang dari Kantor Staf Presiden. Kepala Staf Kepresidenan RI, Muhammad Qodari, menyebut MTN sebagai contoh konkret kehadiran negara dalam membangun ekosistem talenta.
"Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya adalah contoh nyata bagaimana negara tidak hanya memberi ruang, tetapi membangun ekosistem,” katanya.
Baca Juga: Indonesia Terbitkan Orange Bonds Senilai US$980 Juta dalam Orange Forum 2025
Dengan pendekatan lintas sektor, pembinaan terukur, dan integrasi dalam perencanaan pembangunan nasional, MTN Wave menegaskan perubahan paradigma: seni budaya kini ditempatkan sebagai fondasi pembangunan talenta dan strategi jangka panjang negara.
Seperti ditegaskan kembali oleh Menteri Kebudayaan, talenta seni tidak boleh berhenti pada panggung festival semata.
“Mereka harus memiliki jalur pembinaan, rekognisi, dan keberlanjutan karier,” ujar Fadli Zon.
Dengan demikian, MTN Wave bukan hanya perayaan capaian, melainkan juga refleksi atas komitmen negara untuk menjaga pembinaan talenta tetap hidup, inklusif, dan relevan dalam jangka panjang.