Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mendorong penguatan sistem pemetaan talenta seni yang lebih terukur, objektif, dan berbasis data sebagai fondasi kebijakan pengembangan kebudayaan nasional. Menurutnya, pemetaan sumber daya manusia (SDM) kebudayaan harus dilakukan secara menyeluruh dan sistematis agar pengembangan talenta tidak lagi bertumpu pada asumsi, melainkan pada potensi nyata setiap individu.

Menbud Fadli menilai pendekatan Talent DNA memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara nasional karena mampu mengidentifikasi bakat terpendam sejak dini serta membuka ruang kolaborasi lintas sektor dalam pembinaan seni dan budaya.

“Kalau ini menjadi program nasional, kita bisa mengetahui bakat terpendam siswa di seluruh Indonesia,” ujar Menbud Fadli dalam keterangan resminya, Senin (12/1/2026).

Hal tersebut disampaikan Menbud Fadli saat menghadiri rapat pembahasan pemetaan SDM kebudayaan dan manajemen talenta di Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta, yang juga memaparkan hasil pemetaan talenta seni berbasis Talent DNA oleh ESQ Group. Dalam kesempatan itu, Menbud menekankan pentingnya menempatkan seni setara dengan bidang lain dalam pembangunan talenta nasional.

“Pemerintah berencana mengedepankan STEM ke depan. Itu bisa ditambahkan menjadi STEAM, dengan memasukkan arts di dalamnya,” tegasnya.

Founder ESQ Group, Ary Ginanjar Agustian, menjelaskan bahwa pemetaan talenta seni ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan enam bulan sebelumnya dengan Kementerian Kebudayaan. Pemetaan dilakukan melalui pengisian Talent DNA oleh siswa SMA Labschool Kebayoran, SMPN 1 Megamendung, dan SMAN 31 Jakarta.

“Objektif pengisian Talent DNA ini adalah memfasilitasi siswa untuk menggali minat, bakat, dan potensi talenta seni, kemudian melakukan seleksi untuk mengidentifikasi potensi seni yang paling menonjol sebagai dasar pembinaan lanjutan,” ujar Ary.

Ia menambahkan, pemetaan Talent DNA mencakup enam bidang seni, yaitu seni pertunjukan, seni rupa, desain, kriya, sastra, serta seni media, film, dan animasi. Pendekatan ini juga melihat Drive Network Action setiap individu, yakni pola motif, kecenderungan perilaku, dan cara berinteraksi yang membentuk potensi talenta seseorang.

“Motif manusia itu berbeda-beda, cara bergaulnya juga berbeda. Dari situ kita bisa melihat kecenderungan potensi, termasuk siapa yang kuat di seni, matematika, fisika, riset, dan lainnya,” jelas Ary.