Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendorong perguruan tinggi untuk menyesuaikan metode pembelajaran. Menjawab tantangan tersebut, Monash University, Indonesia, menghadirkan Teaching Excellence Program (TEP) 2026 guna memperkuat kapasitas dosen dalam menerapkan pengajaran yang lebih inklusif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
Program ini dirancang sebagai ruang bagi para pendidik untuk mengembangkan kompetensi mengajar sekaligus mengeksplorasi pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Baca Juga: Monash University, Indonesia dan Muhammadiyah Resmikan Kemitraan Strategis
Berbeda dengan pelatihan pengajar pada umumnya, TEP 2026 mengintegrasikan konsep authentic assessment atau asesmen autentik, dialogic feedback (masukan interaktif), serta pemanfaatan teknologi secara bijak agar proses belajar tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Monash Education Academy di Australia, Education & Training Academy Monash University Malaysia, serta Learning & Teaching Operations Monash University Indonesia.
Professor Matthew Nicholson, Pro Vice-Chancellor & President Monash University Indonesia, mengatakan kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas tenaga pengajar. Karena itu, peningkatan kompetensi dosen menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan lanskap pendidikan, termasuk hadirnya AI.
Baca Juga: Monash University, Indonesia dan Sinar Mas Land Gelar NextGen Digital Impact Competition
"Di Monash University, Indonesia, kami percaya bahwa kualitas pendidikan berawal dari kualitas para pengajarnya. Melalui Teaching Excellence Program 2026, kami berkomitmen mendukung para pengajar dalam mengembangkan praktik pengajaran yang reflektif, adaptif, dan relevan, termasuk dalam merespons pesatnya perkembangan AI," ujar Matthew dikutip pada Jumat (03/07/2026).
Ia menilai pengajaran tidak lagi sekadar menyampaikan materi, melainkan membentuk cara berpikir kritis serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi mahasiswa.
Dalam program ini, AI diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkaya proses pembelajaran, bukan menggantikan peran dosen. Pengajar didorong memanfaatkan teknologi tersebut untuk mengembangkan kemampuan analitis, logika, dan menjaga integritas akademik mahasiswa.
Monash University Indonesia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pengajaran di perguruan tinggi. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), sekitar seperempat dosen di Indonesia telah bergelar doktor, sementara mayoritas lainnya masih bergelar magister. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan bahwa mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh jenjang pendidikan dosen, tetapi juga oleh kemauan untuk terus mengembangkan metode pembelajaran.
Melalui TEP 2026, para pengajar didorong untuk merancang pengalaman belajar yang lebih dekat dengan dunia nyata. Salah satunya melalui penerapan asesmen autentik yang mengaitkan materi kuliah dengan tantangan di dunia kerja, serta dialog dua arah antara dosen dan mahasiswa agar proses belajar menjadi lebih interaktif.
Baca Juga: Riset Monash University Ungkap Faktor Risiko dan Pencegahan Demensia
Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari inisiatif global Teaching that Transforms, yang menempatkan dosen tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga fasilitator yang mendorong rasa ingin tahu, kemampuan memecahkan masalah, dan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia profesional.
Dalam praktiknya, Associate Professor Claudia Stoicescu dari bidang Kesehatan Masyarakat menerapkan pembelajaran berbasis pengalaman dengan menghadirkan simulasi persoalan nyata serta isu kesetaraan dan keadilan sosial ke dalam kelas. Sementara itu, Dr. Harriman Saragih dari bidang Business Innovation mengajak mahasiswa menjadi "pracademics", yakni profesional yang mampu menjembatani teori akademik dengan praktik di industri melalui studi kasus dan tantangan bisnis yang nyata.
Melalui Teaching Excellence Program 2026, Monash University Indonesia berharap dapat membangun ekosistem pendidikan tinggi yang menempatkan kualitas pengajaran sebagai fondasi utama, sehingga lulusan tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat maupun dunia industri.