Para peneliti dari Monash University, Indonesia sedang mengembangkan sebuah platform digital berbasis AI bernama Kita Bersama. Berdasarkan studi tahun 2024 yang diterbitkan dalam Journal of Medicine, Surgery, and Public Health, AI mampu mendeteksi perubahan emosional seseorang sejak dini melalui bahasa yang digunakan, pola tidur, aktivitas fisik, serta interaksi. Kemampuan ini didukung oleh kapasitas sistem AI dalam mengenali pola dan menganalisis data dalam jumlah besar.

Sistem serupa juga memungkinkan AI untuk melakukan skrining awal terhadap gangguan kesehatan mental, termasuk mengidentifikasi pengalaman buruk di masa kecil sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Agar dapat dimanfaatkan secara tepat sasaran, pengembangan AI perlu disesuaikan dengan konteks lokal dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Hal ini mencakup sistem kesehatan, pendidikan, bahasa, budaya, serta dinamika keluarga dalam pengambilan keputusan medis. Tujuannya adalah mengurangi risiko bias diagnosis akibat keterbatasan AI dalam memahami konteks sosial, budaya, dan sistem kesehatan di Indonesia. Selain berpotensi menghasilkan diagnosis yang keliru, bias AI juga dapat memperburuk stigma terhadap kelompok rentan.

Baca Juga: Monash University Bekali Dosen Hadapi Era AI, Fokus pada Pembelajaran Berpikir Kritis

Dalam pengembangan platform Kita Bersama, tim peneliti menyelenggarakan serangkaian lokakarya co-design. Lokakarya ini melibatkan peserta berusia 10–24 tahun, orang tua dan guru mereka, serta tenaga kesehatan. Dalam proses tersebut, para peserta diajak berdiskusi mengenai bagaimana platform Kita Bersama dapat membantu anak muda meningkatkan kemampuan mereka beradaptasi di bawah bayang-bayang pengalaman buruk di masa kecil. Berdasarkan data, sekitar 78% remaja Indonesia mengaku pernah mengalami pengalaman buruk di masa kecil (adverse childhood experiences/ACE) yang sering kali berpotensi menimbulkan trauma. 

Hingga pertengahan 2026, para peneliti telah menyelesaikan proses co-design dengan anak muda dan orang tua di Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Jakarta. Dari proses ini, mereka memperoleh wawasan penting mengenai kebutuhan layanan kesehatan mental digital di tingkat lokal. Prototipe yang dihasilkan saat ini sedang menjalani tahap konsultasi dengan para ahli dan stakeholder, termasuk Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sebelum uji coba dilakukan secara sukarela di Jawa Barat dan Kalimantan Timur pada akhir 2026. Hasil lengkap dari uji coba tersebut diperkirakan akan tersedia pada Februari 2027.

Kehadiran AI Mendukung Tenaga Profesional Kesehatan Mental

Kehadiran platform Kita Bersama bukan untuk menggantikan peran psikolog atau psikiater. Karena itu, pengguna platform yang terindikasi mengalami tanda-tanda masalah kesehatan mental akibat pengalaman buruk di masa kecil mereka akan tetap diarahkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa AI belum dapat menggantikan aspek keterhubungan dan empati dalam interaksi antarmanusia, khususnya antara pasien dan terapis. Padahal, kedua aspek tersebut merupakan inti dari proses pemulihan dalam terapi psikologis.

Ke depan, tantangan perkembangan platform Kita Bersama masih banyak. Kesenjangan digital yang masih lebar tetap menjadi salah satu tantangan utama. Di banyak daerah terpencil, akses internet masih terbatas, perangkat yang tersedia belum memadai, dan literasi kesehatan digital masyarakat masih rendah. Selain itu, isu etika dan privasi juga perlu mendapat perhatian serius. Informasi terkait kesehatan mental termasuk kategori data yang sangat sensitif dan rentan disalahgunakan. Oleh karena itu, proses pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan data tersebut harus sejalan dengan prinsip transparansi, persetujuan berdasarkan informasi yang memadai (informed consent), serta perlindungan data yang ketat. Semua penerapan ini juga harus disertai prinsip kehati-hatian dengan memastikan privasi, akurasi, informed consent, dan pengawasan manusia.