Sebuah proyek riset baru yang melibatkan peneliti dari Monash University, Indonesia memperkenalkan NusaAKsara, sebuah tolok ukur inovatif yang dirancang untuk menjaga sekaligus menghidupkan kembali aksara-aksara asli Indonesia. Riset ini dipimpin bersama oleh Assistant Professor Alham Fikri Aji dan Associate Professor Derry Wijaya, serta melibatkan tim peneliti internasional dari MBZUAI dan Monash University, Indonesia.

"Punahnya suatu bahasa sama dengan hilangnya pengetahuan yang terkandung di dalamnya.” Kutipan dari ahli linguistik ternama Hywel Coleman ini menjadi landasan bagi penelitian terbaru dari tim tersebut, yang dipublikasikan di tengah penyelenggaraan Proceedings of the 63rd Annual Meeting of the Association for Computational Linguistics.

Baca Juga: Monash University, Indonesia dan Muhammadiyah Resmikan Kemitraan Strategis

Di Indonesia, aksara tradisional bukan sekadar alat komunikasi. Aksara adalah wadah identitas yang menyimpan kearifan dan catatan terperinci mengenai sejarah, pengobatan, perniagaan, dan hukum dari berabad-abad silam. Namun, seiring tuntutan romanisasi di ruang digital, aksara-aksara ini semakin terabaikan. Akibatnya, generasi muda tidak lagi mampu membaca sejarah mereka sendiri, bahkan memandang warisan luhur budaya mereka sebagai sesuatu yang “asing”. 

Associate Professor Derry Wijaya mengatakan, "Di berbagai belahan dunia, banyak komunitas berhasil membangkitkan bahasa-bahasa yang sempat ‘tertidur’ atau meningkatkan keberadaan aksara tradisional melalui perpaduan semangat akar rumput dan dukungan institusi. AI memiliki potensi untuk menjadi bagian dari solusi teknologi ini, tetapi membutuhkan pelatihan yang terarah untuk mengatasi dampak negatif yang melekat pada kondisi yang ada saat ini."

Ada berbagai contoh sukses yang dapat menjadi acuan dalam upaya menghidupkan kembali bahasa yang hampir punah. Pada tahun 1980-an, rendahnya jumlah penutur fasih bahasa Māori di Selandia Baru mendorong para tokoh adat setempat untuk mendirikan pusat penitipan anak. Di sana, anak-anak didekatkan secara mendalam dengan bahasa dan budaya Māori oleh para tetua adat. Inisiatif ini kemudian berkembang menjadi jalur pendidikan berkelanjutan lewat sekolah dasar dan sekolah menengah dengan bahasa pengantar Māori.

Ketika para peneliti menguji model AI terkini pada aksara asli seperti aksara Jawa, Sunda, dan Lontara, sebagian besar menunjukkan kinerja yang nyaris nol. Bahkan, AI tingkat lanjut pun kesulitan mengenali karakter dasar, dan sering kali menghasilkan teks yang tidak masuk akal. Alasannya sederhana, yaitu kelangkaan data. Sebagian besar kumpulan data pelatihan AI didominasi bahasa Inggris dan bahasa-bahasa lain yang berbasis alfabet Latin. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan, di mana teknik pemrosesan bahasa alami (NLP) untuk bahasa Indonesia mengabaikan aksara lokal, yang pada akhirnya membuat penggunaan aksara-aksara tersebut semakin minim.

Untuk mengatasi tantangan ini, para peneliti mengambil pendekatan langsung ke lapangan, sejalan dengan komitmen Monash terhadap masyarakat adat. Mereka tidak hanya mengandalkan arsip digital yang terbatas, tetapi juga secara langsung mengumpulkan 75 buku dan manuskrip dari pasar lokal serta koleksi pribadi. Proses ini dilakukan bersama penutur asli, pendidik, serta komunitas akar rumput yang peduli terhadap pelestarian warisan budaya, termasuk Aksara di Nusantara. Kolaborasi ini dilakukan untuk menyalin, melakukan transliterasi, dan menerjemahkan ribuan halaman secara manual. 

Pendekatan manual ini memastikan bahwa AI tidak hanya mempelajari bentuk huruf, tetapi juga memahami nuansa budaya yang terkandung dalam teks. Salah satu pencapaian paling penting adalah penyertaan aksara Lampung, yang hingga kini belum memiliki dukungan Unicode, yang artinya, aksara ini pada dasarnya “tidak ada” di jaringan internet standar. Dengan membangun kerangka kerja khusus untuk aksara Lampung, tim peneliti memberikan kehidupan digital bagi sebuah aksara yang berada di ambang kepunahan di era modern.

Meski AI adalah teknologi, manfaat NusaAKsara sesungguhnya sangat humanis:

  • Pendidikan: Membantu sekolah memanfaatkan teknologi untuk mengajarkan aksara leluhur kepada anak-anak;
  • Hukum: Memungkinkan penafsiran akta tanah bersejarah dan catatan hukum yang ditulis dalam aksara tradisional;
  • Identitas: Memastikan bahwa di era AI global, identitas lokal tetap dihargai dan komunitas terkait dapat berkembang.

“Sistem penulisan lokal Indonesia bukan sekadar artefak sejarah; sistem-sistem tersebut adalah gudang pengetahuan,” ujar Associate Professor Wijaya.

Dengan menempatkan penelitian AI ini pada konteks lokal di kampusnya di Indonesia, Monash University, Indonesia menunjukkan bahwa AI dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk melestarikan keberagaman budaya, bukan justru menyeragamkannya. Langkah di atas menjadi pengingat bahwa kualitas sebuah inovasi bergantung pada siapa saja yang terlibat di dalamnya. Melalui proyek ini, Monash University terus memimpin dalam membentuk lanskap AI yang beragam dan kaya, sama seperti sejarah manusia itu sendiri.