Menurut Budi, pemerintah juga belum dapat memastikan besaran potensi penurunan nilai ekspor akibat konflik tersebut. Kajian awal memang telah dilakukan bersama Badan Kebijakan Perdagangan (BK Perdag), tetapi hasilnya masih bersifat sementara.

Ia juga belum bisa memerinci jenis komoditas atau produk yang kemungkinan terdampak akibat konflik di Iran. Mendag berharap ketegangan di kawasan Timur Tengah tidak berlangsung lama sehingga tidak memberikan tekanan besar terhadap perdagangan global, termasuk Indonesia.

“Kemarin sudah kita kaji dengan BK Perdag, tetapi kami juga belum bisa memastikan sebelum mendapat masukan dari para pelaku usaha,” ucapnya.