Nama Sudono Salim dikenal luas sebagai salah satu tokoh besar dalam dunia bisnis Indonesia. Pendiri Salim Group ini berhasil membangun konglomerasi raksasa yang melahirkan berbagai perusahaan besar, mulai dari Indofood Sukses Makmur, Indomobil, Indocement Tunggal Prakarsa, hingga Bank Central Asia.
Di balik kesuksesan tersebut, perjalanan hidup Sudono Salim bukanlah kisah yang instan. Ia memulai segalanya dari nol. Lahir sebagai anak seorang petani miskin yang merantau, hingga akhirnya menjadi salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia.
Dari Anak Petani ke Perantau di Hindia Belanda
Sudono Salim lahir dengan nama Liem Sioe Liong pada 19 Juli 1916 di Fuqing, Fujian, Tiongkok. Ia berasal dari keluarga petani sederhana dan harus putus sekolah pada usia 15 tahun karena kondisi ekonomi keluarga.
Baca Juga: 24 Jam Bersama Grup Salim
Situasi ekonomi yang sulit membuatnya memutuskan merantau. Pada usia sekitar 20 tahun, ia berlayar menuju Hindia Belanda dengan menumpang kapal dagang Belanda selama hampir satu bulan, mengikuti jejak sang kakak yang lebih dulu menetap di sana.
Setibanya di Indonesia, ia tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Di kota ini, perjalanan hidupnya dimulai dari pekerjaan sederhana sebagai buruh di pabrik tahu dan kerupuk.
Memulai Usaha dari Bisnis Cengkeh
Meski memulai dari pekerjaan kasar, naluri bisnis Sudono Salim mulai muncul ketika ia melihat peluang perdagangan cengkeh dan tembakau di Kudus. Daerah tersebut memang saat itu dikenal sebagai pusat industri rokok kretek.
Baca Juga: Mengenal Sosok Franciscus Welirang, Salah Satu Tokoh Penting dalam Grup Salim
Baca Juga: Kerajaan Bisnis Salim Group, dari Perusahaan FMCG Terbesar hingga Kelapa Sawit
Ia kemudian mencoba peruntungan dengan berdagang cengkeh. Usahanya berkembang pesat hingga membuatnya dikenal sebagai salah satu bandar cengkeh terbesar di Kudus pada usia yang relatif muda.
Namun, perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada awal 1940-an, usaha cengkeh yang ia bangun mengalami kebangkrutan.
Bangkit Lewat Bisnis Logistik di Masa Perjuangan
Alih-alih menyerah, Sudono Salim mencoba bangkit kembali. Setelah Indonesia meraih kemerdekaan pada 1945, ia pindah ke Jakarta dan memulai bisnis baru sebagai penyedia logistik, obat-obatan, dan perlengkapan bagi tentara Indonesia yang tengah berjuang menghadapi Belanda.
Dari aktivitas bisnis inilah ia mulai mengenal sejumlah tokoh penting, termasuk Soeharto, yang saat itu masih menjadi perwira militer. Hubungan keduanya kemudian berkembang cukup dekat di masa-masa berikutnya.
Nama “Sudono” sendiri disebut diberikan oleh Soeharto sebagai nama Indonesia bagi Liem Sioe Liong, sementara “Salim” merupakan nama keluarga yang ia pilih.
Membangun Kerajaan Bisnis Salim Group
Memasuki era pembangunan ekonomi pada akhir 1960-an, Sudono Salim mulai membangun kerajaan bisnisnya.
Pada 1968, bersama Sudwikatmono, Ibrahim Risjad, dan Djuhar Sutanto, ia mendirikan perusahaan tepung terigu Bogasari Flour Mills. Perusahaan ini kemudian menjadi produsen tepung terigu terbesar di Indonesia.
Baca Juga: Perjuangan Panjang Sudono Salim Dirikan Salim Group
Bisnisnya terus berkembang ke berbagai sektor industri. Ia mendirikan Indocement Tunggal Prakarsa pada 1975 di sektor semen dan memperluas bisnisnya ke sektor pangan dengan mendirikan Indofood Sukses Makmur pada 1990. Bahkan, produk mi instan Indomie dari Indofood menjadi salah satu merek makanan Indonesia yang mendunia dan diekspor ke puluhan negara.
Selain itu, bisnis Salim Group juga merambah sektor otomotif, ritel, properti, hingga perbankan. Salah satu tonggak penting lainnya adalah keterlibatannya dalam pengembangan Bank Central Asia bersama Mochtar Riady, yang kemudian berkembang menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia.
Krisis 1998 dan Titik Balik Bisnis
Krisis moneter yang melanda Asia pada 1998 menjadi pukulan besar bagi bisnis Sudono Salim. Saat itu, sejumlah perusahaan di bawah Salim Group mengalami tekanan keuangan yang berat.
Situasi semakin rumit ketika terjadi Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Rumah Sudono Salim di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, menjadi sasaran penjarahan massa. Krisis tersebut membuat Salim Group harus menyerahkan puluhan perusahaan kepada pemerintah untuk menyelesaikan kewajiban utang yang mencapai puluhan triliun rupiah.
Baca Juga: Deretan Bisnis Anthoni Salim, Miliki Banyak Perusahaan Besar
Setelah peristiwa tersebut, Sudono Salim memilih pindah ke Singapura dan secara bertahap menyerahkan kepemimpinan bisnis keluarga kepada putranya, Anthoni Salim.
Di tangan generasi kedua, Salim Group perlahan bangkit kembali. Sejumlah bisnis utama seperti Indofood tetap bertahan dan bahkan berkembang menjadi perusahaan pangan besar di kawasan Asia.
Sudono Salim sendiri memilih menjalani masa tuanya dengan lebih tenang di Singapura hingga akhirnya meninggal dunia pada 10 Juni 2012 dalam usia 95 tahun.
Kisah hidupnya sering disebut sebagai contoh nyata perjalanan seorang perantau yang memulai dari bawah hingga berhasil membangun kerajaan bisnis besar. Dari seorang buruh pabrik kerupuk di Kudus hingga menjadi pendiri konglomerasi raksasa, perjalanan Sudono Salim menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan dunia bisnis di Indonesia.