Nama Sefas Group menjadi sorotan setelah perusahaan tersebut masuk dalam perusahaan patungan yang mengambil alih bisnis SPBU Shell di Indonesia. Kesepakatan tersebut diumumkan Shell pada Mei 2025 dan melibatkan Citadel Pacific Limited serta Sefas Group.

Meski demikian, Sefas bukan satu-satunya pihak yang mengambil alih bisnis tersebut. Citadel Pacific menjadi pemegang saham mayoritas dalam perusahaan patungan baru tersebut, sementara Sefas masuk sebagai pemegang saham minoritas.

Pengalihan bisnis ini mencakup jaringan SPBU Shell beserta kegiatan pasokan dan distribusi bahan bakar minyak, tetapi tidak mencakup bisnis pelumas Shell di Indonesia.

Lantas, siapa sebenarnya Sefas Group dan siapa sosok di balik perusahaan tersebut?

Berawal dari Distributor Pelumas Shell

Sefas Group memiliki perjalanan bisnis yang cukup panjang sebelum terlibat dalam pengambilalihan bisnis SPBU Shell.

Perusahaan ini berdiri pada 1997 dan memulai bisnis sebagai distributor pelumas Shell. Dari bisnis tersebut, Sefas kemudian membangun jaringan distribusi dan memperluas operasionalnya ke berbagai wilayah Indonesia.

Dalam situs resminya, Sefas menyebut kini memiliki lebih dari 20 kantor dan gudang yang tersebar di berbagai daerah. Perusahaan juga mengembangkan bisnisnya ke sejumlah sektor industri, termasuk pertambangan, konstruksi, pertanian, armada, hingga manufaktur.

Perjalanan tersebut membuat Sefas tidak asing dengan industri energi dan rantai pasok bahan bakar maupun pelumas. Bahkan, hingga saat ini Sefas masih tercatat sebagai distributor resmi Shell Lubricants di Indonesia.

Baca Juga: Gaya Kepemimpinan Presisi di Shell Indonesia

Didirikan Herman Soegeng dan Ricky Roesli

Sefas Group didirikan oleh dua pengusaha Indonesia, yaitu Herman Soegeng dan Ricky Roesli, pada Oktober 1997.

Herman Soegeng saat ini menjabat sebagai Komisaris Sefas. Ia merupakan lulusan Bachelor of Science in Business Administration dari Oklahoma State University, Amerika Serikat, yang diperolehnya pada 1992.

Sementara itu, Ricky Roesli menjabat sebagai Direktur Utama Sefas. Ia memiliki latar belakang pendidikan bisnis dari California State University, Fresno, serta memperoleh gelar Master of Business Administration dari City University, Seattle.

Keduanya menjadi sosok penting dalam perjalanan Sefas dari perusahaan distributor pelumas hingga berkembang menjadi kelompok usaha dengan berbagai unit bisnis.

Ekspansi Sefas dari Waktu ke Waktu

Pertumbuhan Sefas tidak berhenti pada bisnis distribusi pelumas.

Berdasarkan catatan perusahaan, Sefas mulai memperluas jaringan dan unit bisnisnya secara bertahap. Pada 2002, perusahaan memperkuat kehadirannya di Kalimantan Selatan, kemudian mengembangkan bisnis melalui sejumlah entitas lain di berbagai wilayah.

Ekspansi berlanjut dengan hadirnya Sefas Keliantama pada 2009, Blue Coolant Indonesia pada 2010, Cahaya Samoedera Bersaudara pada 2013, hingga sejumlah unit bisnis lainnya yang berkembang pada periode berikutnya.

Perusahaan juga mencatat ekspansi melalui PT Sinergi Semesta Pratama di Karawang pada 2022 dan PT Pancaputra Mitratama Mandiri di Jawa Timur pada 2024.

Dengan perkembangan tersebut, Sefas tidak lagi hanya mengandalkan satu lini bisnis, tetapi membangun ekosistem usaha yang berkaitan dengan distribusi, energi, pelumas, serta layanan teknis.

Baca Juga: Sepak Terjang Andri Pratiwa, Veteran yang Menjadi Bos Baru Shell

Punya Hubungan Panjang dengan Shell

Keterlibatan Sefas dalam pengambilalihan bisnis SPBU Shell juga tidak muncul secara tiba-tiba.

Sefas telah memiliki hubungan bisnis dengan Shell sejak perusahaan berdiri sebagai distributor pelumas. Salah satu unitnya, PT Sefas Pelindotama, bahkan disebut sebagai distributor resmi pelumas Shell sejak 1997.

Hubungan tersebut kemudian berkembang di berbagai sektor. PT Cahaya Samoedera Bersaudara, misalnya, ditunjuk Shell Indonesia sebagai distributor resmi Shell Marine pada 2010 sebelum bergabung dengan PT Sefas Pelindotama melalui merger pada 2013.

Pengalaman panjang di industri tersebut menjadi salah satu modal Sefas ketika kemudian masuk dalam perusahaan patungan untuk mengambil alih bisnis mobility Shell di Indonesia.

Bukan Berarti Merek Shell Hilang

Meski kepemilikan bisnis SPBU beralih, konsumen tidak serta-merta kehilangan merek Shell.

Shell menyatakan bahwa setelah proses pengalihan selesai, merek Shell tetap tersedia di Indonesia melalui perjanjian lisensi. Produk BBM juga tetap dipasok melalui Shell, sehingga pelanggan masih dapat mengakses produk bahan bakar Shell.

Pada April 2026, Shell juga masih menyebut proses pengalihan bisnis SPBU kepada perusahaan patungan Citadel Pacific dan Sefas sebagai bagian dari agenda transisi perusahaan di Indonesia. Di sisi lain, Shell menegaskan tetap mengembangkan bisnis pelumasnya di Tanah Air.

Sefas di Tengah Babak Baru Bisnis SPBU Shell

Masuknya Sefas dalam perusahaan patungan yang mengambil alih bisnis SPBU Shell menjadi babak baru bagi perusahaan yang selama hampir tiga dekade dikenal sebagai distributor pelumas.

Dari bisnis yang dimulai pada 1997, Sefas kini memiliki jaringan distribusi di berbagai wilayah dan pengalaman panjang di industri energi. Keterlibatan dalam bisnis mobility Shell pun membuat kiprah perusahaan semakin menarik untuk diperhatikan.

Meski begitu, perlu digarisbawahi bahwa transaksi tersebut merupakan aksi korporasi Citadel Pacific dan Sefas melalui perusahaan patungan, bukan akuisisi oleh Sefas Group seorang diri.

Bagi Sefas, langkah tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana pengalaman panjang di bidang distribusi dan energi dapat menjadi modal untuk masuk ke bisnis dengan skala yang lebih besar.

Sementara bagi Shell, pengalihan bisnis SPBU merupakan bagian dari strategi transformasi portofolio perusahaan, dengan tetap mempertahankan keberadaan merek dan produk BBM Shell di Indonesia.