Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) terus berevolusi, tak terkecuali di dunia kerja. Bukan lagi sekadar mengeksplorasi teknologi, perusahaan mulai dihadapkan pada kebutuhan untuk memastikan pemanfaatan AI berlangsung secara aman dan terintegrasi, namun tetap mampu memberikan dampak nyata bagi bisnis.

Poin tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam Mekari Conference 2026 bertajuk “AI at Work” yang digelar di Jakarta pada Selasa (29/9/2026). Dalam Mekari Conference 2026, lebih dari 700 pemimpin perusahaan, pemilik bisnis, praktisi teknologi, hingga profesional lintas industri berpartisipasi membahas perkembangan AI serta pengaruhnya terhadap masa depan dunia kerja Indonesia.

Momentum tersebut berlangsung di tengah meningkatnya adopsi AI di Tanah Air. Berdasarkan laporan ASEAN Intelligence 2026, sebanyak 62% perusahaan Indonesia disebut telah menjadi first mover dalam adopsi AI di kawasan Asia Tenggara. Sementara itu, riset Salesforce 2026 menunjukkan bahwa 70% pekerja Indonesia merasa lebih percaya diri menggunakan AI di tempat kerja berkat kebiasaan mereka menggunakan teknologi tersebut secara personal.

Baca Juga: Bisnis di Indonesia Bergeser Menuju Keterlibatan Pelanggan Berbasis Percakapan

Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa antusiasme tersebut belum sepenuhnya berjalan beriringan dengan kesiapan organisasi. Survei yang sama mencatat, baru sekitar 33% pekerja yang mendapatkan pelatihan AI secara resmi dari perusahaan. Data lainnya juga menunjukkan sekitar 26% perusahaan di Indonesia telah mengintegrasikan AI secara penuh ke dalam operasional bisnis. 

Kesenjangan antara penggunaan AI oleh pekerja dan kesiapan perusahaan kemudian memunculkan fenomena yang dikenal sebagai Shadow AI. Istilah ini merujuk pada penggunaan aplikasi atau layanan AI pribadi maupun yang tidak mendapatkan otorisasi perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Di satu sisi, penggunaan AI secara mandiri dapat membantu pekerja menyelesaikan tugas dengan lebih cepat. Namun di sisi lain, praktik tersebut dapat membawa risiko terhadap keamanan data dan privasi perusahaan apabila tidak berada dalam sistem tata kelola yang jelas.

Merespons fenomena tersebut, Chief Executive Officer (CEO) Mekari, Suwandi Soh, mengungkapkan bahwa tantangan perusahaan saat ini bukan lagi sekadar menentukan apakah AI akan digunakan, melainkan bagaimana memastikan teknologi tersebut digunakan secara aman dan bertanggung jawab.

"Pekerja Indonesia memiliki antusiasme yang luar biasa terhadap AI. Namun ketika perusahaan tidak menyediakan infrastruktur yang memadai, karyawan akan mencari solusi sendiri. Di sinilah risiko Shadow AI muncul," pungkas Suwandi dalam paparannya di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Suwandi menilai, perusahaan perlu menyediakan AI yang aman, terintegrasi, dan sesuai dengan kebutuhan bisnis. Pendekatan tersebut antara lain diwujudkan Mekari melalui Mekari Airene yang membawa teknologi AI ke dalam alur kerja bisnis sehari-hari, dengan fondasi keamanan yang didukung sertifikasi ISO/IEC 27001 dan ISO/IEC 27701. 

Tentang AI dan Peran Manusia

Di tengah semakin luasnya otomatisasi, konferensi tersebut juga menyoroti pentingnya mempertahankan peran manusia dalam proses pengambilan keputusan perusahaan. Konsep Human in the Loop menjadi salah satu pendekatan yang dibahas, di mana AI ditempatkan sebagai teknologi yang membantu pekerjaan repetitif dan analisis data, sedangkan keputusan strategis tetap berada di tangan manusia.

Sejumlah data internal Mekari juga memperlihatkan peningkatan pemanfaatan AI dalam berbagai fungsi bisnis. Pada fungsi Sales & CRM, misalnya, adopsi fitur AI pada Mekari Qontak tercatat meningkat hingga 7,8 kali lipat. Sementara penggunaan AI pada Mekari Talenta untuk fungsi HR dan rekrutmen tumbuh 138%.

Di bidang keuangan dan operasional, integrasi Airene Anomaly Checker pada Mekari Jurnal dan Expense/XPM digunakan untuk membantu memindai transaksi serta mendeteksi potensi pembengkakan anggaran secara real-time. 

Tak hanya itu, implementasi AI juga ditunjukkan melalui pengalaman Dermaster. Jaringan klinik estetika tersebut memanfaatkan teknologi Conversational AI melalui Mekari Qontak untuk menangani ribuan interaksi pelanggan setiap hari.

Director of Sales & Operational Dermaster, Dicky Ie, mengatakan bahwa pemanfaatan AI membantu memangkas waktu respons pelanggan dari hitungan jam menjadi hitungan menit. Teknologi tersebut juga membantu mengurangi pekerjaan administratif yang berulang sehingga tim dapat lebih fokus memberikan pengalaman pelanggan.

“Kecepatan dan presisi merupakan fondasi kepercayaan pelanggan. Dengan dukungan AI, tim kami dapat mengurangi pekerjaan administratif yang berulang dan lebih fokus menghadirkan pengalaman pelanggan yang personal,” tambah Dicky. 

Lebih lanjut, Mekari Conference 2026 juga menghadirkan Mekari Experience Zone yang memungkinkan peserta melihat secara langsung penerapan AI di berbagai fungsi bisnis.

Pada area HR & People, misalnya, peserta dapat melihat penggunaan fitur AI Candidate Scoring dan CV Parsing pada Mekari Talenta. Sementara di area Sales & Marketing, ditampilkan pemanfaatan Conversational AI dan pengelolaan pesanan melalui Mekari Qontak, Desty, dan POS.

Adapun pada sektor Finance & Operations, peserta dapat menyaksikan kemampuan Airene Anomaly Checker dalam mendeteksi ketidakwajaran laporan keuangan dan melakukan flagging terhadap pengeluaran. Kemudian, ada pula area Strategy, IT & Legal yang memperlihatkan pembuatan Agentic Workflows tanpa kode hanya dengan menggunakan instruksi bahasa sehari-hari atau prompting. 

Rangkaian pembahasan dan demonstrasi tersebut memperlihatkan bahwa penerapan AI di lingkungan kerja tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi. Faktor keamanan, tata kelola, kesiapan talenta, hingga kolaborasi antara manusia dan AI turut menjadi bagian penting dalam proses transformasi.

Mekari Conference 2026 pun menyoroti adanya pergeseran fokus perusahaan dalam mengadopsi AI. Jika sebelumnya banyak organisasi berada pada tahap eksplorasi dan eksperimen, perhatian kini mulai mengarah pada tata kelola, integrasi, keamanan, serta penciptaan nilai bisnis yang lebih nyata.

Forum yang menghadirkan perwakilan OpenAI, AWS, Meta, regulator, akademisi, sektor perbankan, dan pelaku industri tersebut menjadi ruang diskusi mengenai bagaimana perusahaan dapat memanfaatkan AI sekaligus menjaga keamanan data, kepercayaan, dan peran manusia dalam dunia kerja.