Tak hanya itu, Ferry menilai, reputasi menjadi aset yang tidak kalah penting bagi para pebisnis besar.
Melalui aktivitas filantropi yang dijalankan yayasan, citra seorang pengusaha dapat berubah dari sekadar pencari keuntungan menjadi sosok yang peduli terhadap masyarakat.
Menurut Ferry, reputasi tersebut juga dapat membuka peluang untuk membangun jejaring yang lebih luas, termasuk dengan para pemangku kepentingan.
"Lewat yayasan, seorang pebisnis bisa berubah citranya dari haus uang jadi pahlawan kemanusiaan. Ini adalah tiket masuk buat lobi-lobi pejabat biasanya, dan bangun jaringan di level yang lebih tinggi lagi," ungkapnya.
Meski demikian, penting dipahami bahwa pandangan Ferry merupakan perspektif mengenai strategi yang menurutnya kerap digunakan dalam dunia bisnis.
Pada praktiknya, kata dia, pengelolaan yayasan, perpajakan, hingga pewarisan aset di setiap negara diatur oleh regulasi yang berbeda-beda dan tidak semua yayasan dibentuk dengan tujuan yang sama.
Kemudian, Ferry menegaskan bahwa di balik citra filantropi, yayasan juga dapat dipandang sebagai instrumen strategis dalam pengelolaan kekayaan.
"Jadi yayasan bukan cuma tempat untuk memberi, ini adalah cara mereka mengamankan kekuasaan, menjaga harta dari pajak, dan mengawam pengaruh yang nggak mungkin tersentuh. Di mata publik, ini adalah kebaikan. Tapi di mata pebisnis, itu adalah strategi pertahanan aset," pungkas Ferry.
Baca Juga: Pakar Ungkap Alasan Leader Hebat Tidak Harus Selalu Terlihat Sempurna