Growthmates, banyak orang menganggap yayasan yang dimiliki para miliarder dunia semata-mata dibentuk untuk kegiatan amal. Namun, menurut Pebisnis, Praktisi Marketing, dan Business Coach, Ferry Dafira, ada strategi bisnis dan pengelolaan aset yang jauh lebih kompleks di balik pendirian yayasan.
Ferry menuturkan, di kalangan pebisnis kelas atas, yayasan tidak hanya berfungsi sebagai wadah kegiatan sosial, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pengelolaan kekayaan, warisan, hingga membangun reputasi.
"Kalau kamu pikir ini mungkin murni karena mereka pengen bagi-bagi duit, kamu baru lihat permukaannya aja sebenarnya. Di dunia atas, yayasan itu sebenarnya adalah berangkas yang paling cerdas," kata Ferry, dalam sebuah video sebagaimana dikutip dari laman Instagram pribadinya, Selasa (21/7/2026).
Menurut Ferry, salah satu alasan utama adalah efisiensi dalam pengelolaan aset. Ia menilai bahwa ketika kekayaan dalam jumlah sangat besar disimpan atas nama pribadi, beban pajak yang dikenakan dapat menjadi sangat tinggi.
Sebaliknya, ketika dana tersebut ditempatkan melalui sebuah yayasan, statusnya berubah menjadi dana sosial yang dalam kondisi tertentu dapat memperoleh perlakuan pajak yang berbeda sesuai aturan yang berlaku di masing-masing negara.
"Kalau mereka simpan uang triliunan di rekening pribadi, pajaknya bakal besar banget. Tapi kalau uang itu dipindah ke yayasan, statusnya berubah jadi dana sosial. Pajaknya bisa turun drastis, tapi kendali uangnya tetap 100% di tangan mereka," ujar Ferry.
Selain persoalan pajak, Ferry juga menyoroti fungsi yayasan dalam menjaga keberlangsungan aset keluarga lintas generasi.Menurutnya, struktur yayasan dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari perencanaan suksesi sehingga kepemilikan dan pengelolaan aset tetap berada dalam lingkup keluarga.
"Yayasan juga punya cara paling cerdas buat warisan sebenarnya. Daripada kasih perusahaan langsung ke anak dan kena pajak warisannya gila-gilaan, mereka kasih posisi jabatan di yayasan. Aset aman, keluarga tetap berkuasa," jelasnya.
Baca Juga: 6 Kebiasaan Hidup Hemat Para Jutawan Kelas Menengah, Menurut Pakar
Tak hanya itu, Ferry menilai, reputasi menjadi aset yang tidak kalah penting bagi para pebisnis besar.
Melalui aktivitas filantropi yang dijalankan yayasan, citra seorang pengusaha dapat berubah dari sekadar pencari keuntungan menjadi sosok yang peduli terhadap masyarakat.
Menurut Ferry, reputasi tersebut juga dapat membuka peluang untuk membangun jejaring yang lebih luas, termasuk dengan para pemangku kepentingan.
"Lewat yayasan, seorang pebisnis bisa berubah citranya dari haus uang jadi pahlawan kemanusiaan. Ini adalah tiket masuk buat lobi-lobi pejabat biasanya, dan bangun jaringan di level yang lebih tinggi lagi," ungkapnya.
Meski demikian, penting dipahami bahwa pandangan Ferry merupakan perspektif mengenai strategi yang menurutnya kerap digunakan dalam dunia bisnis.
Pada praktiknya, kata dia, pengelolaan yayasan, perpajakan, hingga pewarisan aset di setiap negara diatur oleh regulasi yang berbeda-beda dan tidak semua yayasan dibentuk dengan tujuan yang sama.
Kemudian, Ferry menegaskan bahwa di balik citra filantropi, yayasan juga dapat dipandang sebagai instrumen strategis dalam pengelolaan kekayaan.
"Jadi yayasan bukan cuma tempat untuk memberi, ini adalah cara mereka mengamankan kekuasaan, menjaga harta dari pajak, dan mengawam pengaruh yang nggak mungkin tersentuh. Di mata publik, ini adalah kebaikan. Tapi di mata pebisnis, itu adalah strategi pertahanan aset," pungkas Ferry.
Baca Juga: Pakar Ungkap Alasan Leader Hebat Tidak Harus Selalu Terlihat Sempurna