Pengkaji isu Sosial-Ekologi Universitas Paramadina Ica Wulansari menyebut peluang bisnis dari pengelolaan sampah plastik terbuka lebar. Sampah plastik yang menjadi biang kerok masalah lingkungan itu kata Ica bisa dimanfaatkan sebagai sebuah ladang bisnis menjanjikan. 

Menurut dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina itu, hadirnya peluang bisnis dari pengelolaan sampah plastik itu sudah mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir setelah hadirnya berbagai komunitas pengepul sampah plastik. 

Baca Juga: Pegiat Sosial-Ekologi Sorot Minimnya Peran Pemerintah dalam Penanggulangan Sampah Plastik

Baca Juga: Peresmian Waste Station Kerja Sama Rekosistem-MCI di Hari Peduli Sampah Nasional

Komunitas-komunitas itu membuat bank sampah untuk dijadikan karya seni seperti membuat tempat pensil, pot bunga hingga celengan yang semuanya berbahan dasar plastik bekas kemasan minuman berenergi, bahkan plastik bekas kemasan makanan ringan dan makan instan juga dapat didaur ulang menjadi sebuah karya bernilai bisnis dengan menyulapnya menjadi tas belanja dan lain-lain. 

“Tentang peluang pasti ada ya. Terbukti misalnya kalau lihat di media sosial ada rafil gitu ya, kemudian ada komunitas yang mengumpulkan sampah bersama, kemudian nanti sampah ini dipilah, kita bikin bank sampah, jadi gagasan bank sampah, gagasan untuk mengumpulkan sampah, gagasan untuk mendaur ulang itu sudah ada,” kata Ica ketika diwawancarai Olenka.id Kamis (11/4/2024).

Ica yakin bisnis pengelolaan sampah plastik bakal menggeliat, sebab saat ini pemerintah telah menggagas kebijakan pembangunan nasional dengan mengakomodir ekonomi sirkuler.

Ekonomi sirkuler adalah pendekatan dalam manajemen sumber daya ekonomi yang bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam, mengurangi limbah, dan memperpanjang siklus hidup produk.

“Artinya peluang bisnis sebenarnya cukup besar. Artinya kita sudah perlu untuk mengakomodir bagaimana sampah-sampah plastik ini kemudian punya nilai tambah gitu ya, punya nilai tambah kemudian perlu ada upaya untuk membisniskan rafil atau sampah daur ulang,” ujarnya.