Saat ini, luas area perkebunan sawit nasional adalah 16,8 juta hektare (ha). Dengan skenario luas lahan yang sama, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menargetkan peningkatan produktivitas sawit demi memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun ekspor.
Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, mengakui bahwa produktivitas sawit Indonesia masih tertinggal dari Malaysia. Jika dibandingkan, nilai produktivitas kelapa sawit Malaysia sebesar 3,82 MT/ha/tahun di 2024 dan naik menjadi 4,02 MT/ha/tahun di 2025. Sementara itu, nilai produktivitas kelapa sawit Indonesia berada di angka 3,53 MT/ha/tahun di 2024 dan 3,61 MT/ha/tahun di 2025.
Baca Juga: Apresiasi Inovasi UMKM Binaan BPDP, Menkeu Purbaya Dorong Hilirisasi Sawit
“Padahal, luas lahan dari Tanaman Telah Menghasilkan (TTM) di Indonesia lebih luas dari Malaysia. Artinya, ini adalah tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas. Dengan luasan lahan yang lebih tinggi, seyogianya Indonesia masih bisa meningkatkan produktivitas," jelas Zaid dalam Media Briefing yang digelar di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Salah satu program andalan BPDP untuk meningkatkan produktivitas sawit adalah Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Sejak digulirkan pada 2016 lalu, total dana yang telah disalurkan mencapai Rp10 triliun. Sementara itu, target penyaluran PSR di tahun ini bisa menyentuh 50.000 hektare lahan.
Senada, Direktur Palmoil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, juga menekankan pentingnya peningkatan produktivitas sawit Indonesia. Dia menuturkan 3 strategi utama yang dapat dilakukan, yakni (i) percepatan huluisasi; (ii) pendalaman hilirisasi; serta (iii) perbaikan tata kelola yang integratif dan berkelanjutan.
“Perlu diingat, Indonesia tidak hanya produsen, tetapi juga konsumen sawit terbesar sehingga menjaga stabilitas dan keseimbangan pemanfaatan sawit di dalam negeri maupun kebutuhan ekspor harus dilakukan. Dengan pemanfaatan biodiesel yang makin marak, saya justru khawatir kita kekurangan stok sawit,” jelasnya.
Dengan strategi yang tepat, seperti penggunaan bibit unggul dan pemanfaatan teknologi tinggi tepat-guna, Tungkot menilai jika produktivitas sawit yang kini berada di angka 3 ton/ha bisa meningkat 5 ton/ha di tahun 2045. Dengan asumsi luas area perkebunan tak bertambah, produksi minyak sawit Indonesia di tahun 2045 bisa mencapai 84,15 juta ton (dari 52,76 juta ton di 2024) dengan peningkatan kontribusi dalam PDB naik dua kali lipat. Diharapkan, kontribusi sawit dalam PDB bisa menyentuh angka Rp12,765 triliun di 2045 dari Rp6,727 triliun di 2024.