Transformasi BUMN tidak terjadi dalam semalam. Di balik lonjakan laba dan efisiensi yang dicatat sepanjang 2025, terdapat keputusan-keputusan struktural yang sudah dijalankan jauh sebelum hasilnya terlihat.
Serangkaian keputusan strategis, perubahan model bisnis, restrukturisasi organisasi, hingga penyehatan fundamental perusahaan yang dijalankan dengan pendekatan berbeda di setiap BUMN. Dengan kata lain, keberhasilan yang terlihat hari ini merupakan akumulasi dari proses transformasi yang berlangsung jauh sebelum angka-angka itu dipublikasikan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan peran entitas negara tidak dapat dipandang semata-mata sebagai mesin pencetak laba.
Baca Juga: 5 Bos Bank BUMN Menari-Nari Usai Bertemu Purbaya, Kenapa?
"BUMN semata-mata tidak hanya mengejar dari segi laba, tetapi juga harus dirasakan kehadirannya ke masyarakat, ke rakyat dalam bentuk pemberian persamaan kesempatan dari segala lapisan, dari UMKM, komersial maupun korporasi," kata Rosan, baru-baru ini.
Prinsip tersebut tampaknya tercermin dalam berbagai langkah restrukturisasi yang dijalankan pada sejumlah BUMN strategis. PT Pupuk Indonesia menjadi salah satu contoh transformasi yang menyentuh fondasi bisnis. Perubahan skema subsidi dari model cost-plus menuju mekanisme mark-to-market menjadi perubahan cara perusahaan menciptakan nilai.
Baca Juga: Kinerja BUMN Membaik di Bawah Perjalanan Satu Tahun Danantara
Dengan skema baru, perusahaan memiliki ruang yang lebih besar untuk mengelola risiko fluktuasi harga komoditas sekaligus memaksimalkan profitabilitas secara adaptif.
Transformasi serupa terjadi di sektor energi. PT Pertamina (Persero) mengambil langkah konsolidasi struktural melalui penggabungan tiga entitas hilir, yakni Pertamina Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan Pertamina International Shipping (PIS), ke dalam Subholding Downstream. Langkah tersebut bertujuan mengurangi tumpang tindih operasional sekaligus memperkuat integrasi rantai bisnis hilir.
Konsolidasi BUMN dalam praktiknya adalah penyederhanaan struktur, membuka ruang efisiensi, mempercepat pengambilan keputusan, dan memperkuat sinergi antar fungsi bisnis yang sebelumnya berjalan secara terpisah.
Transformasi dengan Banyak Wajah
Jika Pertamina menggambarkan transformasi melalui konsolidasi, maka PT Krakatau Steel menunjukkan bagaimana restrukturisasi dapat menjadi jalan keluar dari tekanan finansial yang berkepanjangan. Melalui restrukturisasi utang, efisiensi operasional, dan penataan ulang portofolio bisnis, Krakatau Steel berhasil membukukan laba Rp635 miliar pada April 2026, berbalik dari kerugian Rp981 miliar pada April 2025. Ini terjadi seiring pemangkasan utang dari US$1,7 miliar menjadi US$1,1 miliar.
Dampak transformasi juga terlihat pada sektor kawasan industri. Sepanjang 2025, penyediaan lahan industri meningkat hingga 142 hektare. Pertumbuhan ini diikuti peningkatan pendapatan dari Rp3,09 triliun pada 2024 menjadi Rp3,81 triliun pada 2025, sementara laba meningkat dari Rp830 miliar menjadi Rp1,3 triliun.
Namun, angka finansial bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Kenaikan investasi asing langsung (FDI) sebesar US$400–500 juta dan terciptanya sekitar 10.000 lapangan kerja baru menunjukkan bahwa transformasi korporasi memiliki efek berganda yang melampaui laporan keuangan perusahaan.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa sebagian besar efisiensi yang dihasilkan dari proses konsolidasi berasal dari pemangkasan transaksi berlapis antara perusahaan induk dan anak usahanya, yang selama ini menjadi sumber pemborosan tersembunyi di tubuh BUMN.
"Efisiensi yang paling besar sebetulnya datangnya dari layering transaction, karena umumnya anak-anak perusahaan di dalam BUMN itu mengerjakan pekerjaan dari induknya. Itu kemudian menyebabkan inefisiensi," ujar Dony.
Ia menambahkan, proses konsolidasi ini diperkirakan mampu menghemat sekitar Rp30 triliun inefisiensi operasional per tahun, ditambah potensi tambahan Rp20 triliun dari penutupan anak-anak perusahaan yang selama ini merugi.
Sementara itu, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menunjukkan bagaimana integrasi dan efisiensi operasional dapat menghasilkan pertumbuhan yang signifikan. Hingga April 2026, Pelindo membukukan laba sebesar Rp1,48 triliun, tumbuh 169 persen dibandingkan Rp550 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Persentase pertumbuhan tersebut menjadi salah satu yang tertinggi di antara BUMN yang menjalani transformasi.
Di tengah berbagai perubahan tersebut, tantangan terbesar sesungguhnya bukan hanya melakukan merger, restrukturisasi, atau konsolidasi, tetapi juga memastikan integrasi berjalan efektif dalam jangka panjang. Pandangan ini juga muncul dari kalangan legislatif yang mengikuti proses transformasi BUMN secara saksama.
Anggota Komisi VI DPR RI Christiany Eugenia Paruntu, mengingatkan keberhasilan transformasi tidak berhenti pada pengurangan jumlah entitas usaha.
"Tahap yang jauh lebih penting adalah memastikan integrasi pasca-merger berjalan efektif, mulai dari harmonisasi budaya kerja, penyelarasan proses bisnis, penguatan tata kelola perusahaan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia," kata Christiany.
Pada akhirnya, beberapa kisah transformasi tersebut menunjukkan satu pola yang sama, yakni keberhasilan BUMN tidak lahir dari pendekatan yang seragam. Ada yang dimulai dari perubahan model bisnis, ada yang ditempuh melalui konsolidasi, penyehatan keuangan, maupun ekspansi operasional.
Perbedaan pendekatan itu justru menjadi bukti bahwa transformasi yang dijalankan bersifat kontekstual dan berorientasi hasil. Di balik angka laba, penurunan utang, atau pertumbuhan investasi, terdapat proses perubahan yang panjang, kompleks, dan sering kali tidak terlihat. Dan mungkin, justru di sanalah letak transformasi sesungguhnya.