Kabar pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) menyita perhatian publik pada awal pekan ini. Pasalnya, pengunduran diri tersebut terjadi di tengah dinamika pasar yang yang masih penuh tekanan, baik dari aspek moneter maupun fiskal.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai bahwa kabar pengunduran diri tersebut memicu tekanan terhadap berbagai instrumen keuangan, terutama nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
"Biasanya hal ini akan diikuti dengan pelemahan indeks dan juga pelemahan nilai tukar. Kalau ini reaksi sesaat hanya dalam satu atau beberapa hari masih relatif oke. Yang perlu dikhawatirkan itu kalau tekanannya lebih besar dan berlangsung dalam waktu yang lama," ungkap Faisal kepada Olenka, Senin (27/7/2026).
Baca Juga: Mengungkap Alasan Perry Warjiyo Mundur dari Jabatan Gubernur BI
Faisal menambahkan, jika tekanan pasar berlangsung dalam periode yang lebih panjang, kondisi tersebut dapat memperberat tantangan Bank Indonesia (BI) yang selama ini telah bekerja keras menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ia menuturkan bahwa sebelum munculnya isu pengunduran diri, rupiah sebenarnya mulai menunjukkan perbaikan dengan kembali bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar AS, meski masih tipis. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat berbalik apabila sentimen negatif pasar terus berlanjut.
Baca Juga: Perry Warjiyo Mundur dari Jabatan Gubernur BI, Siapa Penggantinya?
"Kalau tekanan ini berlangsung lebih lama, saya khawatir rupiah akan kembali melemah. Artinya, Bank Indonesia harus bekerja lebih keras lagi untuk kembali menstabilkan nilai tukar," tambahnya.
Selain dampak terhadap pasar keuangan, Faisal menilai isu tata kelola (governance) dan independensi Bank Indonesia juga akan kembali menjadi perhatian investor maupun lembaga pemeringkat internasional. Menurutnya, persoalan kelembagaan seperti ini berpotensi memengaruhi persepsi terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia.
"IHSG saat ini juga tidak lepas dari sorotan mengenai governance dan independensi Bank Indonesia. Ini menjadi catatan penting bagi lembaga pemeringkat internasional terhadap tata kelola kebijakan dan kelembagaan di Indonesia," katanya.
Mempertimbangkan hal tersebut, Faisal menilai pemerintah perlu segera menunjukkan bahwa proses transisi kepemimpinan dan tata kelola Bank Indonesia tetap berjalan secara profesional, transparan, dan independen. Langkah tersebut dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan pelaku pasar.
"Dalam kondisi seperti ini pasar akan kembali bertanya-tanya. Pemerintah harus membuktikan bahwa tata kelola kelembagaan dan perubahan kebijakan dapat dikelola dengan baik sehingga kepercayaan pasar kembali meningkat. Pada akhirnya, hal itu akan tercermin dari stabilitas makroekonomi, penguatan rupiah, dan perbaikan indeks harga saham," tutup Faisal.