Growthmates, banyak orang tetap memaksakan diri berolahraga meski sedang demam atau mengalami infeksi dengan alasan ingin tetap bugar. Padahal, kebiasaan tersebut justru dapat memperburuk kondisi tubuh dan meningkatkan risiko komplikasi serius.
Dokter sekaligus Entrepreneur, dr. Tirta Mandira Hudhi, mengingatkan bahwa saat seseorang sedang sakit, sistem imun tengah bekerja keras melawan infeksi. Pada kondisi tersebut, tubuh membutuhkan energi untuk proses pemulihan, bukan untuk aktivitas fisik dengan intensitas tinggi.
"Ada orang demam, terus tidurnya cuma dua jam. Lalu dia ikut half marathon di pagi hari. Dia akan kena dua penyakit itu," kata dr. Tirta, dikutip dari laman Instagram pribadinya @dr.tirta, Kamis (6/8/2026).
Menurut dr. Tirta, memaksakan diri berolahraga ketika tubuh sedang mengalami infeksi dapat memperparah penyakit dan bahkan memicu gangguan pada organ vital.
"Memaksakan diri untuk berolahraga saat sakit bisa memperburuk infeksi pada tubuh dan menyebabkan komplikasi jantung. Fakta. Ketika kita sakit, imunitas kita itu lagi drop, dan tubuh kita lagi kena pressure atau stress. Sehingga tubuh itu memerlukan energi tambahan untuk merecover infeksi sistemik tersebut," jelasnya.
dr. Tirta menambahkan bahwa risiko tersebut akan semakin besar jika seseorang menderita penyakit infeksi yang cukup berat, seperti demam berdarah dengue (DBD), demam tifoid, diare berat, maupun keracunan makanan.
"Apalagi kalau penyakitnya itu berat, seperti DBD, demam tifoid, apalagi diare, keracunan. Ini aku habis keracunan nasi Padang. Bolak-balik ke toilet lima kali kemarin. Aku harus me-delay semua olahragaku supaya recovery aku balik," ungkap dr. Tirta sambil menceritakan pengalamannya.
Baca Juga: Masih Merokok Meski Rajin Olahraga? Ini Pesan Penting dari Dokter Tirta
Karena itu, ia memilih menghentikan sementara rutinitas olahraga hingga kondisinya benar-benar pulih. Menurutnya, memaksakan olahraga saat tubuh masih berjuang melawan infeksi hanya akan menambah beban kerja organ-organ tubuh.
"Kalau misalkan dia kena infeksi sistemik dan memaksakan diri untuk olahraga, itu bebannya tambah berat. Bisa infeksinya lebih lama, atau bisa kena ke organ lainnya yang lebih parah," ujarnya.
Lebih lanjut, dr. Tirta menjelaskan bahwa salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah rhabdomyolysis, yaitu kondisi ketika jaringan otot mengalami kerusakan berat akibat tubuh sudah kehabisan cadangan energi.
"Bisa risikonya ke rhabdomyolysis sama acute kidney injury. Rhabdomyolysis itu ketika seseorang dalam kondisi pressure terkuat, tubuh udah kehilangan cadangan energi, glikogen habis, yang dipecah itu adalah massa otot. Nah, massa otot kalau dipecah, munculnya jadi sel otot yang pecah. Jadinya rhabdomyolysis," jelasnya.
Selain itu, olahraga berat saat sakit juga dapat memicu acute kidney injury (AKI) atau cedera ginjal akut.
Kondisi ini terjadi ketika fungsi ginjal menurun secara tiba-tiba sehingga organ tersebut tidak lagi mampu menyaring limbah dan menjaga keseimbangan cairan tubuh dengan baik.
"Terus yang kedua acute kidney injury. Ketika ginjal berhenti bekerja secara mendadak. Ending-nya kematian," tegas dr. Tirta.
Baca Juga: Olahraga Setiap Hari Tanpa Istirahat Bisa Merusak Otot? Ini Penjelasan Dokter Tirta