Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga menilai target Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang membidik Jawa Tengah menjadi basis masa partai politik berlambang gajah itu sukar terwujud karena berbagai faktor. 

Jawa Tengah yang selama ini sudah dikenal menjadi basis suara PDI Perjuangan selama bertahun-tahun jelas sukar direbut, apalagi partai besutan Kaesang Pangarep itu cuma mengandalkan sosok Joko Widodo (Jokowi). 

Baca Juga: Blusukan Jokowi: Upaya Merayu Prabowo Menggandeng Gibran di Pilpres 2029

Salah satu hambatan utama, adalah soal perbedaan karakter Jokowi dan ketua umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan cara pendekatan politik yang juga berbeda jauh.

“Susah direbut karena yang pertama, karakter pengaruh politik Jokowi berbeda dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri kemudian yang ke dua, pengaruh Jokowi lebih personal, berbasis populis, dan berorientasi pada bantuan sosial (bansos). Pendekatan Jokowi ini lebih pragmatis dan dapat mendongkrak elektoral dalam waktu singkat," kata Jamiluddin kepada wartawan Rabu (8/7/2026).

"Pengaruh Jokowi itu tidak mengakar di masyarakat. Karena itu, pengaruh Jokowi akan cepat berubah bila popularitasnya meluntur dan masyarakat tidak mendapat bansos," tambahnya.

Dia mengatakan Jawa Tengah yang menjadi Kandang Banteng dibangun bertahun-tahun lewat berbagai pendekatan politik yang mengakar hingga kini. Ada ikatan ideologis terhadap Bung Karno dan Megawati yang sukses dibangun di sana.

"Pendekatan Megawati menciptakan hubungan yang kuat dengan massa pendukungnya. Hal itu menghasilkan pendukung militan terhadap Megawati," katanya.

Karena itu, dominasi PDIP di Jawa Tengah masih sulit digeser hanya dengan mengandalkan popularitas Jokowi. 

"Melihat pengaruh Jokowi dan Megawati di Jawa Tengah, tampaknya sulit menggeser Jawa Tengah dari 'Kandang Banteng' ke 'Kandang Gajah'. Pengaruh Jokowi yang populis masih sulit mengalahkan pengaruh Megawati yang ideologis di Jawa Tengah," ujarnya.

Secara elektoral lanjut Jamiludin, PSI ketinggalan sangat jauh dibanding PDI-P. Sebagai perbandingan, Pada Pemilu 2024 PSI hanya mendapat dua kursi di DPRD Provinsi Jawa Tengah, sedangkan PDIP berhasil sukses meraup 33 kursi.

Menurutnya, hasil tersebut menunjukkan basis politik PSI di Jawa Tengah masih sangat terbatas, meski saat itu partai tersebut telah mengusung slogan sebagai partainya Jokowi.

"Jokowi saat itu juga masih presiden yang memiliki modal politik, modal ekonomi, dan modal sosial. Namun perolehan kursi PSI untuk DPRD Jawa Tengah tetap sangat sedikit," katanya.

Dengan kondisi tersebut, Jamiluddin menilai peluang PSI menjadikan Jawa Tengah sebagai basis utamanya masih berat apabila hanya bertumpu pada figur Jokowi.

Baca Juga: Jokowi Gandeng Kaesang Keliling Kandang Banteng, PDI-P: Pas Jadi Presiden Saja Gagal Loloskan PSI Apalagi Sudah Nggak Berkuasa!

"Jadi, dari perolehan kursi itu, jelas PSI akan sulit menjadikan Jateng sebagai kandangnya bila hanya mengandalkan Jokowi. Setidaknya perkiraan itu akan berlaku hingga Pileg 2029," pungkasnya.