Guru Besar Kepemimpinan Bisnis di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Donald Crestofel Lantu, mengatakan fenomena gen Z yang cenderung tak terlalu terbebani ketika melakukan kesalahan merupakan antitesis dari pola pikir generasi terdahulu.
Donald Lantu menjelaskan hal tersebut sangat berbeda dengan generasi terdahulu, khususnya generasi X dan baby boomers yang umumnya memandang kesalahan dan kegagalan sebagai persoalan pelik dan serius.
Baca Juga: Kenapa Pemimpin di Indonesia Tidak Punya Budaya Mundur dan Malu saat Melakukan Kesalahan?
Bahkan, terdapat kecenderungan kuat pada generasi terdahulu bahwa kegagalan tidak semestinya terjadi dalam perjalanan karier maupun kehidupan seseorang.
"Gen X atau baby boomers pada saat gagal mereka tidak mau mengakui atau tidak mau mundur. Hal ini menjadi sesuatu yang Gen Z kecam atau kritisi, ya," ungkap Donald kepada Olenka beberapa waktu lalu, dikutip pada Selasa (7/7/2026).
Ia menilai perbedaan perspektif tersebut mencerminkan perubahan budaya dan pola pikir antar-generasi dalam memaknai kesalahan, kegagalan, dan proses pembelajaran. Maka tak heran, lanjutnya, Gen Z menganggap bahwa kegagalan adalah hal yang wajar.
"Ini yang kemudian terjadi semacam mekanisme psikologis bahwa Gen Z menggap it's okay membuat kesalahan, bukan sesuatu yang sifatnya big deal ketika berbuat salah," tambahnya.