Tekanan darah tinggi masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup umum, termasuk di Indonesia. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit serius seperti serangan jantung dan stroke.

Kabar baiknya, ada cara sederhana dan terjangkau untuk membantu mengelolanya, salah satunya dengan rutin berjalan kaki. Lalu, apakah ada waktu terbaik untuk melakukannya agar manfaatnya lebih maksimal?

Menyadur dari laman Health, Rabu (1/4/2026), tekanan darah seseorang cenderung berfluktuasi sepanjang hari. Menurut Tiffany S. Di Pietro, DO, ahli jantung sekaligus pendiri Di Pietro Health, tekanan darah umumnya meningkat di pagi hari dan menurun pada malam hari.

Namun, kondisi seperti lonjakan tekanan darah di pagi hari atau tekanan darah yang tetap tinggi saat malam hari perlu diwaspadai. Pasalnya, keduanya dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai masalah kesehatan.

Baca Juga: Berapa Lama Waktu Ideal Berjalan Kaki Dalam Sehari Agar Tubuh Tetap Fit dan Sehat? Simak Penjelasannya!

Di sinilah berjalan kaki punya peran penting. Menurut Di Pietro, efek penurunan tekanan darah setelah satu kali jalan kaki bisa bertahan selama beberapa jam. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai hipotensi pasca-olahraga. Artinya, waktu kamu berjalan kaki bisa memengaruhi kapan efek penurunan tekanan darah itu terjadi.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan, berjalan kaki di sore atau malam hari bisa memberi manfaat lebih untuk tekanan darah. Salah satunya studi tahun 2019 yang menemukan bahwa olahraga aerobik di malam hari menghasilkan penurunan tekanan darah sistolik yang lebih signifikan dibandingkan olahraga pagi atau tidak berolahraga sama sekali.