Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita masih menjadi sorotan masyarakat. Film karya jurnalis investigasi Dandhy Laksono yang menceritakan penolakan rakyat terhadap proyek-proyek negara di Tanah Papua itu disorot tajam setelah acara nonton bareng (nobar) di sejumlah wilayah di Indonesia dibubarkan aparat.

Bagi yang sudah menonton, simbol salib merah berbagai ukuran kerap terlihat di dalam tangkapan kamera Dhandy dkk. Salib merah itu dibawa dan ditancapkan di sejumlah area. Lantas apa arti simbol tersebut?

Baca Juga: Siapa Bohir Film Pesta Babi?

Secara garis besar, salib merah yang ditancapkan di sejumlah area kosong itu adalah simbol perlawanan rakyat sekaligus harapan rakyat Papua. 

Selain Itu salib merah juga dapat dimaknai sebagai tanda larangan bahwa area yang telah ditandai dengan simbol itu tak boleh diserobot pemerintah untuk membuka lahan baru. Namun dalam film itu kawasan yang sudah diberi tanda salib merah acap kali diserobot alat berat.

“Itu salib besar menandakan doa mereka. Tanda bahwa mereka memohon Tuhan menyelamatkan dari ancaman,” kata Kepala Kantor Perwakilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Papua, Frits Ramandey dilansir Olenka dari Repunlika Kamis (21/5/2026).

Penolakan rakyat Papua bukan tanpa sebab yang jelas. Mereka merasa dirampok di dalam rumahnya sendiri. Lahan-lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat diserobot tanpa permisi. Wajar masyarakat Papua menolak keras. 

Parahnya lagi pengambilan lahan yang terkesan sangat dipaksakan itu melibatkan aparat TNI yang membuat kondisi Papua menjadi jauh lebih genting.

“Penolakannya lebih pada begini, kehadiran proyek-proyek itu tidak partisipatif. Kemudian mengambil ruang-ruang hak ulayat masyarakat secara babi buta, memarjinalisasi mereka dari ruang mencari penghidupan. Sudah begitu ada pengerahan TNI merepresi masyarakat,” ucapnya.

Salib merah bukan simbol yang baru lahir. Tanda itu telah lama sekali dipakai sebagai alat perlawanan. Usianya sudah lebih dari satu dekade. Jangan ditanya sudah berapa salib merah yang tertancap di tanah Papua. Jumlahnya ratusan bahkan ribuan.

Data dari Yayasan Pusaka Bentala Rakyat (Pusaka), lembaga yang selama ini mengadvokasi masyarakat Papua, simbol salib merah itu telah digunakan masyarakat Papua sejak 2014 silam sejak proyek raksa dari Jakarta datang merampas tanah dan merusak hutan yang selama ini memberi mereka kehidupan.

Hingga tahun 2024 saja jumlah salib merah yang dipasang sudah melampaui angka 1.800.

 Sekadar info pengunaan salib menyebar di sejumlah wilayah Papua mulai dari Boven Digoel, Mappi, Merauke, hingga Jayapura​. 

Adapun gerakan salib merah ini menggabungkan agama Kristen yang menjadi kepercayaan mayoritas masyarakat Papua dan adat Papua yang lama mengakar di tanah itu.

Baca Juga: 7 Fakta Film Dokumenter Pesta Babi: Soroti Isu Konflik Agraria di Papua Selatan

"Di Papua, gereja dan adat penting. Jika keduanya bicara seharusnya jadi evaluasi buat pemerintah. Tapi di Jakarta ini tidak tahu adat,” kata Aktivis HAM Papua, Theo Hesegem.

“Pak Presiden dan jajarannya tidak tahu adat dan budaya di Papua yang dilakukan orang Papua harus jadi refleksi pemerintah pusat,” tambahnya memungkasi.