Edisi terbaru ini mengacu pada IQRO’ Klasikal, sebuah format akselerasi dari jilid 1 hingga 6 yang dirancang lebih ringkas dan padat. Rilisan ini menjadi tahap awal dari pengembangan berkelanjutan yang akan terus dilanjutkan pada periode mendatang.
Proyek ini diinisiasi oleh Kahf dan Parastudio, bekerja sama dengan IQRO' Center melalui pendampingan materi dari Balai Litbang LPTQ Nasional Team Tadarus AMM Yogyakarta, serta pengembangan desain oleh W Brand Consultant.
Perwakilan IQRO’ Center sekaligus keluarga dari pencipta metode IQRO’, Rehan Mubarak, menyambut positif inisiatif ini sebagai langkah untuk memperluas semangat belajar Al-Qur’an.
“Inisiasi ini memiliki tujuan yang sejalan dengan K.H. As'ad Humam dan IQRO' Center dalam memberantas buta huruf Al-Qur’an, khususnya pada generasi muda. Dengan niat baik tersebut, kami menyambut positif gagasan ini dan berharap semakin banyak generasi muda yang mungkin belum bisa mengaji, namun merasa ragu untuk memulai kembali dari dasar, dapat terdorong untuk terus belajar dan menyempurnakan bacaan Al-Qur’an melalui pengembangan desain ini,” kata Rehan.
Dalam pendekatan desainnya, IQRO’ Reimagined menggunakan format zine, eksplorasi tipografi dinamis, serta tata letak yang lebih fleksibel. Meski tampil lebih modern, struktur pengenalan huruf, sistem klasikal pembelajaran, dan kaidah bacaan tetap dipertahankan sesuai metode asli.
Ibnu Hafiz Fadhilah, Brand Designer dari W Brand Consultant, menjelaskan bahwa proses reinterpretasi desain dilakukan dengan pendekatan yang sangat hati-hati agar tetap menghormati nilai historisnya.
“Proses dekonstruksi buku IQRO’ Klasikal ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Kami menggunakan pendekatan konsep ‘type as image’ karena khat asli sudah memiliki karakter yang kuat. Begitu pula pertimbangan penggunaan simbol tiga santri dan foto KH. As’ad Humam yang ikonik. Upaya ini dilakukan untuk memadukan dua reinterpretasi sekaligus: modernisasi IQRO’ tanpa menghilangkan sisi otentiknya, serta ekspresi desain Kahf yang kontekstual dalam merespons medium baru dalam pengalaman brand,” jelas Ibnu.
Konsep ini sekaligus menegaskan bahwa IQRO’ bukan hanya buku belajar bagi anak-anak atau pemula, tetapi media pembelajaran sepanjang hayat bagi siapa saja yang ingin terus memperbaiki fondasi membaca Al-Qur’an.
Seniman Bill Mohdor, yang turut menyoroti kolaborasi ini melalui media sosialnya, menilai pendekatan kreatif tersebut sebagai langkah yang relevan untuk generasi masa kini.
“Saat sesuatu yang telah menjadi tradisi lintas generasi disajikan ulang sebagai karya seni yang kontemporer dan relevan, menurut saya ini adalah langkah yang jenius. Ini membuktikan bahwa seni dapat berdampak luas dalam mendorong masyarakat untuk meningkatkan literasi. IQRO’ adalah sebuah legasi karya dari tokoh legendaris Indonesia, dan ketika kelak dibawa ke panggung global, IQRO’ Reimagined ini akan merepresentasikan warisan intelektual bangsa kita,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari gerakan Bener Bareng yang mengajak masyarakat menjadi pribadi yang lebih baik di bulan Ramadan, Kahf juga membawa IQRO’ Reimagined ke ruang publik dan komunitas Muslim di berbagai negara.
Perjalanan global proyek ini dimulai dari kota suci Mekkah dan Madinah, kemudian berlanjut ke London, New York, hingga Chiba melalui berbagai aktivasi komunitas Muslim setempat. Melalui langkah ini, Kahf berharap semangat literasi Al-Qur’an dapat menjangkau generasi yang lebih luas, lintas usia, dan lintas negara.
Baca Juga: Refleksi dan Perjuangan Diri, Kahf Luncurkan Kampanye #PejuangBerKahf