Lebih lanjut, Febri menuturkan, kampanye Jenius Jelajah Jepang juga menjadi bagian dari penguatan identitas pascatransformasi dari BTPN menjadi SMBC Indonesia. Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan langkah strategis untuk mempertegas posisi sebagai bagian dari grup perbankan global Jepang.
Secara global, kata dia, SMBC dikenal sebagai bank korporasi raksasa. Justru bisnis ritel pertamanya dibangun di Indonesia.
“Karena SMBC itu originally bank korporat. Mereka bank besar yang fokusnya korporat dan belum punya bisnis retail. Bisnis retail pertama mereka itu adalah BTPN di Indonesia. Dan sekarang SMBC Indonesia sudah menjadi retail terbesar untuk SMBC secara global,” jelasnya.
Febri menyebut, SMBC tercatat sebagai salah satu bank terbesar dunia berdasarkan aset, dengan jaringan internasional yang luas dan saham yang tercatat di New York Stock Exchange. Dengan skala tersebut, prinsip kehati-hatian menjadi fondasi utama operasional.
“SMBC itu nomor 13 dunia. Ini bank sistemik global. Sehingga kami di SMBC Indonesia menjalankan bisnis dengan very prudent, mengikuti semua governance yang ada untuk memastikan risiko sistemiknya terjaga,” tegas Febri.

Di lini digital, Jenius menjadi motor inovasi. Diluncurkan sejak 2016, Jenius dikembangkan sebagai bank digital native, bukan sekadar bank konvensional yang beralih ke digital.
“Kita menyebut diri kita digital bank karena dikembangkan benar-benar secara digital, bukan bank konvensional yang goes into digital. Spirit-nya memang lahir digital,” kata Febri.
Saat ini, Jenius memiliki lebih dari 70 fitur, mulai dari tabungan fleksibel, investasi, kartu debit multi-currency, hingga satu kartu kredit yang dirancang powerful.
“Kalau bank lain bisa punya 5 sampai 15 jenis kartu kredit, Jenius cuma punya satu kartu yang sangat powerful dan bisa generate bisnis yang quite significant. Dan, pendekatan kreditnya pun berbeda,” kata Febri.
“Kalau di Jenius itu apply loan bukan by product, tapi apply credibility. Dicek dulu credibility-nya, keluar limitnya berapa, lalu bisa dialog mau dipakai untuk cash, kartu kredit, atau pay later,” lanjut Febri.
Febri juga mengatakan, fitur multi-currency yang tersedia 24/7 menjadi salah satu andalan untuk traveler.
“Kita bikin foreign currency 24/7. Karena nasabah kita sering traveling, beda 7 jam, uangnya habis, mau beli sudah tutup. Jadi kita bikin real time,” tuturnya.
Tak hanya itu, biaya administrasi pun dibuat sederhana dan transparan.
“One price for all features. Rp10 ribu. Sementara bank lain biasanya ada kantong-kantong fee berbeda,” katanya.
Febri juga menekankan pentingnya literasi dalam menggunakan kartu kredit.
“Kartu kredit itu bukan kartu jahat. Itu bukan hutang, tapi alat transaksi. Kalau ada 0% kenapa tidak dimanfaatkan? Jangan dianggap kartu utang,” tegasnya.
Baca Juga: Jenius Ajak Pekerja Lepas Cerdas Kelola Finansial di Tengah Penghasilan Fluktuatif