Meski batas tersebut tidak lagi dicantumkan dalam pedoman diet Amerika Serikat saat ini, kandungan kolesterol dalam makanan tetap perlu diperhatikan sebagai bagian dari pola makan seimbang. Terlebih, kebutuhan dan kondisi kesehatan setiap orang berbeda-beda.

Orang dengan kadar kolesterol darah tinggi, penyakit jantung, atau gangguan asam urat perlu lebih cermat dalam menentukan porsi dan frekuensi konsumsi ampela. Kandungan purin pada jeroan juga menjadi pertimbangan bagi mereka yang memiliki masalah asam urat.

Karena itu, mengonsumsi ampela ayam bukan semata-mata persoalan boleh atau tidak, melainkan bagaimana mengatur jumlah dan frekuensinya.

Bagi orang sehat, ampela tidak harus dihindari sepenuhnya, tetapi sebaiknya dijadikan lauk variasi dan bukan sumber protein utama setiap hari.

“Jadi, ampela tidak perlu dihindari sepenuhnya oleh orang sehat. Namun, karena kombinasi kolesterol tinggi dan statusnya sebagai jeroan kaya purin, ampela lebih tepat diposisikan sebagai lauk variasi, bukan makanan harian atau lauk dalam porsi besar,” kata Aries.

Selain memperhatikan porsi, cara memasak juga berpengaruh terhadap kualitas hidangan. Aries menyarankan ampela ayam diolah dengan metode yang tidak membutuhkan banyak tambahan lemak, seperti direbus, dipanggang, atau ditumis menggunakan sedikit minyak.

Baca Juga: Jangan Asal Makan, Ikan Kakap Bisa Berbahaya dalam Kondisi Ini