Masalahnya, lanjut dr. Paskah, gejala gagal jantung pada pasien muda sering kali tidak langsung mengarah pada gangguan jantung.

Pasien mungkin hanya merasa lebih cepat lelah atau stamina menurun ketika beraktivitas. Kondisi tersebut mudah dianggap sebagai kelelahan biasa karena usia yang masih muda.

“Pada pasien gagal jantung yang usia muda, sering kali mereka datang bukan sudah bengkak kaki, sesak, tidak bisa berjalan. Itu sudah lanjut sekali. Jadi sering kali keluhannya itu lebih cepat capek, pegal, seperti itu dianggapnya. Karena masih muda tentunya tidak ada yang terpikir jantung,” kata dr. Paskah.

Menurut dr. Paskah, kemampuan tubuh pada usia muda juga dapat membuat gejala penyakit seolah-olah tertutupi.

“Orang usia muda itu memiliki daya cadangan itu lebih baik. Jadi istilahnya dia keluyuran ke mana-mana itu pakai powerbank badannya. Padahal baterainya mungkin sudah habis, baterai jantungnya selalu turun. Sehingga keluhannya kadang tertutupi pada usia muda,” ujarnya.

Karena itu, keluhan yang terus berulang dan tidak kunjung membaik meskipun sudah mendapatkan pengobatan perlu dievaluasi kembali. Dokter perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya penyebab lain di balik keluhan tersebut.

“Ini menjadi hati-hati kalau memang ada gejala-gejala yang tidak khas, berulang-ulang, tidak sembuh-sembuh, harus dipikirkan, ada kemungkinan penyakit lain tidak? Ya, harus dicari tahu. Kalau diobatin, sudah dihilang, penyakitnya A, berulang-ulang diobatin, tapi tidak membaik, kita harus open mind untuk mencari ada kemungkinan penyebab lain tidak?” tutur dr. Paskah.

Bagi pasien yang telah mencapai gagal jantung stadium lanjut dan memenuhi kriteria tertentu, LVAD dapat menjadi salah satu pilihan terapi. Alat ini bekerja dengan membantu fungsi pompa jantung, khususnya ventrikel kiri, sehingga pasien tetap dapat melakukan berbagai aktivitas dengan penyesuaian.

Menurut dr. Paskah, pasien pengguna LVAD tetap dapat berolahraga. Namun, terdapat jenis aktivitas yang perlu dihindari, terutama olahraga air, karena adanya kabel yang terhubung dari perangkat di dalam tubuh ke bagian luar.

“Olahraga air tidak bisa. Karena ada kabelnya keluar dari luar, sehingga harus cari olahraga lain,” jelasnya.

Aktivitas seperti berjalan kaki dan bersepeda santai masih memungkinkan dilakukan. Ia bahkan memiliki pengalaman melihat pasien LVAD di Belanda yang tetap bersepeda dengan intensitas ringan.

“Jalan kaki pasti bisa. Kalau pengalaman saya waktu di Belanda, pasien-pasien LVAD banyak yang ada komunitas sepedanya, tapi sepeda santai ya, bukan sepeda gunung atau apa, sepeda senam, gym, sangat bisa,” katanya.

Meski demikian, pasien perlu memahami keterbatasan teknologi LVAD saat beraktivitas dengan intensitas tinggi. Kecepatan pompa tidak dapat menyesuaikan kebutuhan tubuh secara otomatis seperti jantung normal.

“Teknologi LVAD saat itu di dunia kelemahan utamanya, speed alat, speed pump-nya itu tidak bisa dimodifikasi secara otomatis. Jadi kita yang mengatur. Ketika kita mengatur speed-nya, itu kan memberikan kondisi dalam istirahat, dalam duduk istirahat, kita atur, oh ini kebutuhannya segini. Tapi ketika olahraga terlalu berlebihan, atau yang bersifat berdebar-debar, kadang-kadang tidak cukup kebutuhan itu, sehingga alarmnya bunyi,” jelasnya.

Karena itu, keputusan untuk memasang LVAD juga membutuhkan proses seleksi yang ketat. Dokter tidak hanya melihat kondisi jantung, tetapi juga mengevaluasi fungsi organ lain yang dapat memengaruhi hasil terapi.

“Tentu, penting sekali untuk kita evaluasi kondisi organ lainnya. Supaya organ lainnya ini bukan kondisi sudah terminal atau gagal juga,” kata dr. Paskah.

Gangguan pada organ lain, seperti gagal ginjal berat, dapat membuat penanganan pasien menjadi lebih kompleks. Pasien mungkin tetap membutuhkan terapi lain, termasuk cuci darah, meskipun fungsi jantungnya telah dibantu LVAD.

Dipaparkan dr. Paskah, waktu pemasangan alat juga menjadi faktor penting. LVAD tidak seharusnya diberikan terlalu dini jika kondisi pasien masih dapat dikendalikan dengan terapi medis. Sebaliknya, tindakan juga tidak boleh ditunda hingga terjadi kerusakan organ yang luas.

“Kita nggak boleh terlalu cepat pasang alat ini, tentunya membebani pasien, sedangkan mungkin dengan minum obat bisa sembuh malah, jadi nggak perlu alatnya. Tapi kita juga nggak boleh terlalu lambat ketika sudah terjadi kerusakan banyak organ, sehingga operasi kemudian hasilnya tidak baik,” pungkasnya.

Dalam konteks gagal jantung stadium lanjut, kata dr. paskah, LVAD saat ini juga dapat digunakan sebagai destination therapy, yaitu terapi jangka panjang bagi pasien yang belum memiliki akses atau belum memungkinkan menjalani transplantasi jantung.

“Saat ini, kita bisa berpandangan demikian. Sebagai Destination Therapy. Jadi Destination Therapy itu artinya alat yang kita gunakan sebagai final therapy untuk pasien yang hidup untuk jangka panjang,” imbuh dr. Paskah.

Terakhir, dr. Paskah berharap, pengembangan program transplantasi jantung di Indonesia dapat terus berjalan. Dengan demikian, di masa mendatang pasien yang menggunakan LVAD sebagai terapi jangka panjang tetap memiliki kemungkinan untuk menjalani transplantasi apabila memenuhi persyaratan.

“Karena kita belum punya program transplantasi di Indonesia saat ini. Tapi tentunya komite transplant Indonesia kan lagi bergerak juga. Kita harapkan dalam tahun-tahun mendatang, program transplantasinya berjalan di Indonesia, sehingga pasien-pasien dengan alat ini bisa pindah suatu saat ke transplantasi jantung, mendapatkan jantung baru. Bukan jantung mesin,” tandasnya.

Baca Juga: Catat Sejarah Baru, Siloam Hospitals Kebon Jeruk Hadirkan Teknologi LVAD untuk Pasien Gagal Jantung