Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal upah buruh mengupas bawang sebesar Rp700 ribu per kilogram masih menjadi sorotan. Di tengah ramainya kritik dan perdebatan di media sosial, Istana justru menyoroti cara publik menerima dan menyebarkan potongan informasi.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, meminta masyarakat tidak terpaku pada satu atau dua kalimat dari pidato Prabowo yang kemudian viral di media sosial.

Menurut Hasan, pidato Presiden seharusnya dipahami secara utuh karena memuat gagasan dan substansi yang lebih besar, bukan hanya potongan pernyataan yang beredar secara terpisah.

Baca Juga: Prabowo Jadi Bulan-bulanan Gegara Pamer Data Ngawur, Istana Minta Masyarakat Berhenti Bicara Gaji Pengupas Bawang

“Ya, satu kalimat, dua kalimat, tapi pikirkan substansi besar dan gagasan besar dari pidato Presiden. Sebaiknya seperti itu,” ujar Hasan saat menghadiri Upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Jakarta, dikutip Kamis (20/8/2026).

Hasan menilai fenomena tersebut tidak terlepas dari cara kerja algoritma media sosial. Menurutnya, algoritma cenderung membuat masyarakat lebih mudah bereaksi terhadap informasi yang memancing emosi.

Ia bahkan menyebut masyarakat saat ini menghadapi tantangan berupa “penjajahan algoritma”.

“Karena sekarang kebanyakan kita, emosi kita, pikiran kita disetir oleh algoritma. Mungkin kita harus punya sebuah mekanisme, sistem dan peradaban untuk bisa merdeka dari pendiktean oleh algoritma ini,” kata Hasan.

Menurutnya, masyarakat membutuhkan mekanisme dan kemampuan untuk menyaring informasi agar tidak mudah dipengaruhi oleh potongan pernyataan yang beredar di ruang digital.

Baca Juga: Prabowo Selalu Blunder Kalau Pidato: Jangan-jangan Masukan Bawahannya yang Ngaco?

Pernyataan Hasan tersebut muncul setelah ucapan Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI pada Jumat (14/8/2026) ramai diperbincangkan.

Saat menyampaikan pidato kenegaraan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Prabowo memperkenalkan seorang perempuan bernama Susana dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Prabowo menyebut Susana sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako yang kini mengalami perbaikan kondisi ekonomi.

Namun, saat memperkenalkannya, Prabowo menyebut Susana bekerja sebagai buruh harian yang mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram.

“Hari ini hadir bersama kita, Ibu Susana dari Kabupaten Bogor, dia bekerja sebagai buruh harian. Mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram,” kata Prabowo, dikutip dari YouTube TV Parlemen.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan luas di media sosial. Nominal Rp700 ribu per kilogram juga dianggap fantastis jika dibandingkan dengan harga bawang di pasaran.

Baca Juga: Soal Pengupas Bawang, Sosok Ini Curiga Ada yang ‘Menjebak’ Prabowo: Pengkhianat...

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, rata-rata harga nasional bawang merah tercatat sekitar Rp34.546 per kilogram. Sementara itu, bawang putih Honan berada di kisaran Rp35.800 per kilogram.

Sorotan tidak hanya tertuju pada nominal upah. Informasi mengenai sosok yang disebut dalam pidato Prabowo juga ikut diperdebatkan setelah muncul keterangan bahwa perempuan tersebut bernama Susanah dan bekerja sebagai penjahit kain perca.

Di tengah polemik tersebut, Hasan meminta publik tidak berhenti pada satu potongan pernyataan yang kemudian viral.

Ia menilai masyarakat perlu melihat konteks pidato secara keseluruhan sekaligus lebih kritis dalam menghadapi informasi yang muncul di media sosial.

Bagi Hasan, tantangan di era digital bukan hanya derasnya arus informasi, tetapi juga bagaimana algoritma dapat menentukan informasi mana yang terus muncul di hadapan masyarakat.

Oleh karena itu, ia mendorong adanya mekanisme dan budaya yang membuat masyarakat tidak mudah “didikte” oleh algoritma, terutama ketika berhadapan dengan informasi yang berpotensi memancing emosi.