Untuk melihat relevansi emas saat ini, Syanne tidak hanya melihat investor ritel, tetapi juga negara dan bank sentral.
Ia menyoroti data negara dengan cadangan emas terbesar di dunia. Amerika Serikat, menurutnya, berada di posisi teratas dengan cadangan sekitar 8.100 ton.
Cadangan tersebut, lanjutnya, setara dengan sekitar 80 persen dari total reserve Amerika Serikat. Jerman dan Italia juga memiliki porsi emas yang besar dalam cadangan mereka.
“Jadi yang ingin kita sampaikan adalah, emas balik lagi, sekalipun sifatnya non-yield, sekalipun sifatnya itu tidak memiliki flow bulanan, cash flow bulanan dan lain sebagainya, tetap menjadi aset strategis yang dimiliki oleh negara,” jelasnya.
Tren pembelian emas oleh bank sentral juga masih berlangsung. Pada paruh pertama 2026, Syanne mencatat sejumlah bank sentral yang konsisten melakukan pembelian emas, di antaranya Polandia, Uzbekistan, China, dan Kazakhstan.
“Kalau kita lihat di first half 2026, di semester pertama, ini adalah empat central banks yang konsisten melakukan pembelian, ada Polandia, ada Uzbekistan, ada China dan Kazakhstan,” katanya.
Memang terdapat bank sentral yang melakukan penjualan, seperti Turki dan Rusia. Namun, secara keseluruhan, Syanne melihat permintaan emas secara struktural masih relatif solid.
Syanne menuturkan, karakteristik emas yang tidak menghasilkan yield sering kali dipandang sebagai kelemahan. Namun, Syanne mengajak investor melihat sisi lainnya.
Ia membandingkan emas dengan obligasi. Ketika investor membeli obligasi, investor memperoleh kupon, tetapi tetap menghadapi risiko apabila penerbit mengalami gagal bayar.
“Ketika kita membeli obligasi, kita dapat coupon secara bulanan. Di sisi lain ada risikonya, yaitu bisa saja penerbit mengalami kegagalan, jadi gagal bayar, which again, ada credit risk,” jelasnya.
Deposito juga memiliki risiko, termasuk risiko bank dan mata uang. Sementara saham memiliki risiko yang berkaitan dengan kinerja bisnis dan fluktuasi harga. Karena itu, Syanne menilai emas perlu didefinisikan secara lebih luas.
“Bukan berarti ketika aset ini jelek, bukan berarti ketika aset ini tidak worth it dimiliki. Tapi yang harus kita ingat adalah cara kita mendefinisikan emas itu harus lebih luas, bukan sekadar aset yang tidak memberikan yield, tapi aset yang memberikan keamanan atau mempunyai keunikan dibandingkan ketiga yang lainnya,” tegasnya.
Syanne kemudian menjelaskan fungsi emas dalam portofolio. Menurutnya, emas tidak harus menjadi aset utama, melainkan dapat berperan sebagai diversifikator.
Menurut Syanne, karakteristik pergerakan emas yang berbeda dengan saham maupun obligasi dapat membantu mengurangi dampak penurunan portofolio ketika pasar mengalami tekanan. Ia pun menegaskan bahwa fungsi emas bukan menggantikan aset lain dalam portofolio.
“Emas fungsinya bukan menjadi core portfolio, tapi diversifikasi kita. Baik itu di kondisi normal, di kondisi baik, di kondisi buruk, apalagi ya emas itu worth it untuk dimiliki,” katanya.
Sebagai ilustrasi, Syanne membandingkan portofolio yang terdiri dari 60 persen saham dan 40 persen obligasi dengan portofolio yang mengalokasikan 10 persen ke emas, sehingga komposisinya menjadi 60 persen saham, 30 persen obligasi, dan 10 persen emas. Menurutnya, penambahan emas tersebut dapat membantu mengurangi besarnya koreksi portofolio ketika terjadi krisis.
Syanne juga menilai alasan utama investor memiliki emas bukan semata-mata untuk menebak arah harga, melainkan untuk mempersiapkan portofolio menghadapi ketidakpastian. Ia mengibaratkan emas seperti prinsip dasar asuransi.
Menurut Syanne, investor tidak pernah mengetahui kapan krisis atau peristiwa besar akan terjadi. Karena itu, memiliki aset yang memiliki karakteristik berbeda dapat menjadi bagian dari strategi perlindungan portofolio.
Ia juga menyoroti performa emas dalam horizon jangka panjang. Dalam 15 tahun terakhir, menurut Syanne, emas mampu mengungguli sejumlah aset pembanding.
“Gold itu ternyata dalam 15 tahun terakhir memiliki performance yang mengalahkan obligasi korporasi, mengalahkan obligasi pemerintah, mengalahkan dolar US, mengalahkan kalau kita investasi di pasar uang, dan juga saham,” ungkapnya.
Namun, Syanne kembali menekankan bahwa kekuatan utama emas bukan sekadar performa harga. Ke depan, lanjut Syanne, investor tetap perlu mencermati sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pergerakan emas. Syanne membaginya menjadi katalis positif dan tantangan.
Di sisi positif, terdapat pembelian bank sentral, potensi penurunan suku bunga, risiko geopolitik, tren dedolarisasi, kekhawatiran fiskal, arus dana ETF, hingga meningkatnya kebutuhan diversifikasi dari investor ritel.
“Kalau kita lihat di sini beberapa katalis positifnya, central bank buy masih terjadi, kemudian falling interest rate, geopolitical risk, de-dollarization, fiscal concerns, ETF inflows, sama yang terakhir portfolio diversification demand dari para investor retail,” jelasnya.
Sementara itu, sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan mencakup kenaikan real yields, penguatan dolar AS, kondisi risk-on market, aksi profit taking, valuasi yang tinggi, hingga respons pasokan dari sektor pertambangan.
Faktor lain adalah perubahan struktur permintaan emas. Menurut Syanne, dalam beberapa tahun terakhir, pembelian bank sentral menjadi semakin dominan dibandingkan permintaan dari sektor perhiasan.
“Kalau seandainya dulu kita ngomong lima sampai tujuh tahun terakhir, permintaan emas dari pembuatan perhiasan atau jewelry itu yang paling tinggi, more or less sekitar 25 persen. Sekarang kalau kita lihat in the last three years, permintaan dari central bank untuk membeli emas itu yang jauh mendominasi,” jelasnya.
Karena itu, jika permintaan dari sektor perhiasan kembali meningkat, kondisi tersebut juga dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika harga emas.
Baca Juga: Syailendra Capital Luncurkan Reksa Dana ETF Emas Syariah di Bursa Efek Indonesia