Emas telah menjadi bagian dari kehidupan manusia selama berabad-abad. Cara memilikinya pun terus berubah, dari emas fisik yang dijual dari pintu ke pintu hingga kini dapat diakses secara digital melalui berbagai instrumen investasi, termasuk Exchange Traded Fund (ETF).

Head of Investment Specialist Syailendra Capital, Syanne Gracetinne Polii, melihat perubahan tersebut sebagai bukti bahwa emas merupakan aset yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai strategisnya.

Syanne bahkan memiliki cerita personal mengenai emas. Ia mengatakan, kakeknya yang berasal dari mainland China merantau ke Indonesia dan memulai bisnis dengan menjual emas secara sederhana.

“Jadi sedikit sharing dulu, kakek saya dari mainland China, terus habis itu merantau ke Indonesia. Bisnis pertama yang kakek saya lakukan itu adalah penjualan emas. Jadi emasnya kayak tadi dibungkus tisu, potongan kotak kecil-kecil, door to door jualan ke orang-orang,” papar Syanne, saat acara ‘Gold 360°: One Asset, Four Perspectives’, yang digelar di Serra Serri Senopati, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa emas telah menjadi aset yang diwariskan lintas generasi. Bahkan, nasihat mengenai emas juga diteruskan dari kakeknya kepada ibunya, kemudian kepada dirinya.

“Hal ini mengingatkan saya kalau sebenarnya umur emas itu sudah berpuluh-puluh tahun. Dan bahkan mulai dari kakek saya berjualan emas, kasih nasihat ke mama saya, terus mama saya kasih nasihat ke saya. Kuncinya satu, ya udah, kalau ada duit belinya emas aja,” tuturnya.

Namun, menurut Syanne, cara masyarakat membeli emas kini telah berubah drastis. Teknologi membuat investor tidak lagi harus menunggu penjual emas datang ke rumah.

Karena itu, Syanne mengajak investor melihat investasi emas sebagai bagian dari perkembangan investasi di era modern.

“Go investing in the modern era. Jadi teman-teman nggak perlu lagi menunggu orang yang ketok-ketok pintu jualan emas. Sekarang kita sendiri bisa membeli emas dengan cara yang sangat-sangat mudah, salah satunya melalui ETF Gold,” jelasnya.

Meski emas telah lama menjadi aset investasi, pandangan terhadapnya tetap terbagi. Syanne mencontohkan Warren Buffett yang dikenal tidak menjadikan emas sebagai pilihan investasi utama.

“Talking about gold, sekalipun emas itu ibarat kata selalu diakui banyak orang, ada satu investor yang sangat kita kenal yaitu Warren Buffett. In fact, Warren Buffett adalah orang yang sangat-sangat membenci emas,” ujar Syanne.

Menurutnya, Buffett melihat emas sebagai aset yang tidak menghasilkan dividen maupun yield.

“Menurut Warren Buffett, emas itu adalah aset yang ibarat kata useless. Udah nggak kasih dividend, nggak kasih yield, ngapain investing? Karena prinsipnya Warren Buffett adalah kalau investasi, either harganya harus murah, kalau enggak, itu di dividend,” jelasnya.

Namun, Syanne mengatakan pandangan tersebut tidak berlaku bagi seluruh investor besar. Ia menyebut Ray Dalio, John Paulson, dan George Soros sebagai sejumlah investor yang memiliki ketertarikan terhadap emas.

Salah satu alasan emas tetap diperhatikan adalah performa historisnya. Menurut Syanne, meski emas tidak memberikan dividen maupun arus kas berkala, harga aset tersebut menunjukkan kenaikan signifikan dalam satu dekade terakhir.

“Jadi emas, sekalipun dijuluki nggak bagi dividend, nggak ada yield, in fact emas itu ternyata dari tahun 2016 sampai tahun 2026 kenaikannya sangat-sangat signifikan,” ungkapnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa investor tidak boleh menganggap emas sebagai aset yang selalu naik. Pada 2026, emas bahkan mengalami koreksi yang cukup dalam.

“Di 2026 ini juga ada satu momen yang sangat-sangat langka, momen kejatuhan emas,” katanya.

Syanne menyebut harga emas terkoreksi sekitar 26 persen sepanjang Januari hingga Juni 2026. Menurutnya, koreksi tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam 10 tahun terakhir.

“Kalau teman-teman lihat di sini, harga emas itu di 2026 dari bulan Januari sampai Juni terkoreksi 26 persen. Dan koreksi ini adalah koreksi yang terbesar dibandingkan dengan koreksi emas di tahun-tahun sebelumnya,” jelas Syanne.

Ia membandingkannya dengan empat periode krisis besar sebelumnya. Rata-rata koreksi emas pada periode tersebut, menurut Syanne, berada di kisaran 12 persen.

“Kalau misalnya kita jumlahkan koreksi-koreksi emas ini, rata-rata koreksi emas dalam empat big crisis itu mungkin more or less hanya sekitar 12 persen. Sekarang di 2026 koreksinya mencapai 26 persen, one of the biggest in the last 10 years,” tuturnya.

Bagi Syanne, koreksi tersebut membuat posisi emas layak ditinjau kembali oleh investor. Namun, ia menekankan bahwa kondisi tersebut bukan berarti harga emas akan otomatis kembali naik setelah dibeli.

“Investor sekarang ini dihadapkan pada kondisi yang cukup atraktif untuk melirik lagi emas. Tapi bukan berarti sekali kita beli emas sekarang, besoknya langsung naik. Bukan berarti juga sekali beli emas, ke depannya nggak ada koreksi,” tegasnya.

“Bukan berarti beli emas sekarang ada jaminan ini balik ke titik tertingginya atau istilahnya all time high. But one way-nya adalah sekarang rasanya investor worth it untuk nge-revisit lagi atau melirik lagi emas itu perkembangannya seperti apa,” tambah Syanne.

Baca Juga: Emas Jadi Aset Diversifikasi, Syailendra Capital Bahas Peluang Investasi Lewat ETF