Tak hanya itu, penelitian lanjutan selama enam bulan juga menemukan bahwa pasien dengan hasil NAVI-HF positif memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami rawat ulang akibat gagal jantung dibandingkan pasien dengan hasil negatif.

Menurut dr. Rony, kehadiran NAVI-HF tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran dokter, melainkan menjadi alat bantu yang dapat mempercepat identifikasi pasien dengan risiko tinggi sehingga penanganan dapat dilakukan lebih dini.

"Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan gagal jantung adalah memastikan kondisi pasien benar-benar stabil sebelum pulang dari rumah sakit. NAVI-HF kami kembangkan untuk membantu dokter mengidentifikasi pasien yang masih berisiko mengalami perburukan melalui alat yang sederhana, portabel, dan didukung teknologi AI. Dengan demikian, pasien yang membutuhkan pemantauan lebih ketat dapat dikenali lebih awal sehingga terapi dapat disesuaikan sebelum terjadi komplikasi," jelas dr. Rony, , dikutip dari keterangan resminya, Kamis (16/7/2026).

Ke depan, teknologi ini juga berpotensi mendukung layanan home-based monitoring dan telemedicine sehingga pemantauan pasien tidak hanya dilakukan di rumah sakit.

"Kami berharap inovasi ini dapat mendukung deteksi yang lebih dini, membantu dokter dalam pengambilan keputusan klinis, sekaligus mengurangi risiko rawat ulang akibat gagal jantung," tambahnya.

Nah Growthmates, pengembangan NAVI-HF menjadi contoh bagaimana kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk mendukung praktik kedokteran modern. AI tidak hadir untuk menggantikan tenaga medis, melainkan memperkuat proses diagnosis dengan memberikan hasil yang lebih cepat, objektif, dan akurat.

Harapannya, inovasi ini dapat meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung sekaligus membantu menekan beban layanan kesehatan di Indonesia melalui deteksi dini dan penanganan yang lebih tepat sasaran.

Baca Juga: MitraClip Resmi Hadir di Primaya Hospital Kelapa Gading, Ini Keunggulannya bagi Pasien Jantung