Primaya Hospital Kelapa Gading kembali menghadirkan inovasi di bidang layanan jantung dengan memperkenalkan MitraClip, teknologi minimal invasif untuk menangani kebocoran katup jantung atau mitral regurgitation (MR) pada pasien yang memiliki risiko tinggi menjalani operasi jantung terbuka.

Kehadiran teknologi ini ditandai dengan keberhasilan pelaksanaan prosedur MitraClip pertama di Primaya Hospital Group melalui kegiatan Live Case: A New Milestone in Cardiac Innovation – The First MitraClip Procedure at Primaya Hospital.

MitraClip menjadi terobosan penting dalam penanganan penyakit katup jantung, terutama karena kebocoran katup mitral merupakan salah satu penyebab utama gagal jantung yang dapat menurunkan kualitas hidup sekaligus meningkatkan risiko kematian apabila tidak ditangani secara tepat.

Berdasarkan berbagai studi, prevalensi mitral regurgitation derajat sedang mencapai sekitar 6,3 persen, sedangkan kasus berat sekitar 1,7 persen. Pada pasien dengan kebocoran katup berat, angka kematian dalam lima tahun dapat mencapai 68 persen, dengan risiko kematian lebih dari dua kali lipat dibandingkan individu tanpa kelainan tersebut.

Meski demikian, masih banyak pasien yang baru memeriksakan diri ketika penyakit telah berkembang ke stadium lanjut. Gejala seperti sesak napas saat beraktivitas, mudah lelah, maupun pembengkakan pada tungkai kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan atau kelelahan biasa sehingga kesempatan mendapatkan terapi yang lebih optimal menjadi terlambat.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi sekaligus Konsultan Aritmia Primaya Hospital Kelapa Gading, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, yang juga merupakan salah satu pengurus Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS), menilai keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan terbesar dalam penanganan kebocoran katup jantung di Indonesia.

"Banyak pasien datang ketika keluhan sudah berat, padahal gejala bukanlah penentu utama kapan tindakan harus dilakukan. Ketika pasien mulai mengalami sesak saat beraktivitas, mudah lelah, atau kaki mulai bengkak, sebaiknya segera memeriksakan diri. Semakin dini kebocoran katup diketahui, semakin besar peluang memberikan terapi yang optimal sebelum fungsi jantung mengalami penurunan," jelas Prof. Yoga.

Pada prosedur perdana tersebut, tim dokter Primaya Hospital Kelapa Gading menangani seorang pasien berusia 72 tahun yang mengalami kebocoran katup mitral berat.

Pasien tersebut telah berulang kali mengalami gagal jantung dan memiliki kemampuan pompa jantung yang hanya tersisa sekitar 25 persen. Kondisi tersebut membuat operasi jantung terbuka memiliki risiko yang sangat tinggi, sehingga MitraClip dipilih sebagai alternatif terapi yang lebih aman.

Baca Juga: Tiga Rumah Sakit Primaya Raih WSO Angels Award 2026 untuk Keunggulan Layanan Stroke