Adapun, salah satu platform yang direkomendasikan Theo adalah Odoo. Ia menjelaskan bahwa pelaku usaha tidak harus langsung menggunakan seluruh fitur yang tersedia. Mereka dapat memulai dari satu aplikasi yang paling dibutuhkan, kemudian menambahkan modul lain seiring berkembangnya kebutuhan bisnis.

Theo menilai, salah satu area yang paling sering menimbulkan masalah adalah pengelolaan keuangan dan invoicing. Ketika masih dilakukan secara manual, risiko terjadinya kesalahan pencatatan, invoice yang keliru, pembayaran yang terlewat, hingga laporan keuangan yang tidak rapi menjadi jauh lebih besar.

"Yang biasanya jadi masalah kalau semuanya serba manual itu keuangan dan invoicing. Gue rekomen benerin itu dulu, biar nggak ada lagi salah invoice, pembayaran keskip, laporan keuangan berantakan," tuturnya.

Setelah sistem keuangan berjalan dengan baik, bisnis dapat mengembangkan sistem operasionalnya secara bertahap sesuai kebutuhan.

Theo juga menyoroti keunggulan Odoo yang menawarkan sistem terintegrasi dalam satu platform, sehingga berbagai fungsi bisnis dapat saling terhubung tanpa harus menggunakan banyak aplikasi berbeda.

"Yang bikin Odoo beda, semua sistemnya tuh udah native dan terintegrasi. Mulai dari sales, inventory, accounting, HR, CRM, sampai project management. Jadi bukan disambung-sambungin dari luar," katanya.

Selain integrasi sistem, Theo juga menilai biaya yang ditawarkan cukup kompetitif untuk berbagai skala usaha, mulai dari bisnis kecil hingga perusahaan besar yang memiliki kebutuhan operasional lebih kompleks.

Terakhir, Theo mengingatkan bahwa kesuksesan sebuah bisnis tidak hanya ditentukan oleh tingginya penjualan.

Pertumbuhan yang berkelanjutan membutuhkan fondasi yang kuat, sistem yang rapi, serta operasional yang mampu mengikuti laju perkembangan usaha.

"Kalau lagi scale up bisnis nih ingat, ini bukan tentang sales doang. Perhatikan sistem dan operasionalnya juga karena itu krusial," pungkas Theo.

Baca Juga: Theo Derick Ungkap Alasan Enggan Flexing Kekayaan