Dalam sesi ilmiah, Prof. Yong-ho Lee dari Division of Endocrinology and Metabolism, Yonsei University Severance Hospital, Korea Selatan, memaparkan bukti klinis yang mendukung penggunaan Enavogliflozin, khususnya pada populasi pasien Asia.

Menurutnya, karakteristik pasien diabetes di Asia memiliki tantangan tersendiri sehingga membutuhkan pendekatan terapi yang lebih spesifik.

"Terapi baru ini merupakan SGLT-2 inhibitor yang telah didukung oleh bukti klinis yang secara khusus diperoleh pada pasien Asia dengan diabetes melitus tipe 2," papar Prof. Yong-ho Lee.

Ia menjelaskan, keberhasilan terapi diabetes tidak hanya diukur dari penurunan kadar gula darah.

"Dalam menangani pasien Asia, pemilihan terapi tidak hanya perlu mempertimbangkan efektivitas dalam menurunkan kadar glukosa darah, tetapi juga dampaknya terhadap parameter metabolik, seperti berat badan dan resistensi insulin," jelasnya.

Selain peluncuran terapi baru, acara tersebut juga menjadi momentum penguatan kerja sama internasional melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Korean Diabetes Association (KDA) dan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI).

Kesepakatan tersebut bertujuan memperluas kolaborasi dalam penelitian bersama serta pengembangan pendidikan medis di bidang diabetes.

Chairman Korean Diabetes Association, Prof. Sung-rae Kim, mengatakan kerja sama tersebut diharapkan mampu mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus meningkatkan kualitas penanganan diabetes di kedua negara.

"MoU ini menjadi jembatan menuju tujuan bersama untuk meningkatkan kualitas penanganan diabetes melalui penelitian ilmiah dan pendidikan," kata Prof. Sung-rae Kim.

"Kami akan terus menciptakan peluang yang bermakna untuk pertukaran akademik melalui penelitian bersama dan kolaborasi pendidikan,” sambungnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Daewoong Pharmaceutical, Seong-soo Park, berharap kehadiran Enavogliflozin dapat memberikan manfaat nyata bagi pasien diabetes tipe 2 di Indonesia sekaligus memperkuat kolaborasi dengan komunitas medis.

"Kami berharap peluncuran ini dapat menghadirkan pilihan terapi baru bagi pasien diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. Sejalan dengan penguatan kerja sama akademik antara kedua organisasi profesi, Daewoong akan terus memperluas kolaborasi dengan tenaga kesehatan serta berkontribusi dalam meningkatkan kualitas tata laksana diabetes di Indonesia," tandas Seong-soo Park.

Baca Juga: Bukan Hanya Gula Darah, Ini Alasan Pasien Diabetes Perlu Pantau LDL-C dan Fungsi Ginjal