Industri kelapa sawit kembali mendapat sorotan sebagai salah satu tulang punggung perekonomian nasional.
Ketua Bidang Kampanye Positif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Edi Suhardi, menegaskan bahwa kontribusi sektor ini tidak hanya besar dari sisi ekonomi, tetapi juga membawa dampak luas terhadap kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Menurut Edi, berbagai data resmi menunjukkan betapa pentingnya peran industri sawit bagi negara. Ia pun menyebut kontribusi sektor ini terlihat jelas dari berbagai indikator ekonomi utama.
“Sebagaimana kita ketahui, kalau kita lihat data-data yang ada, baik itu dari Badan Pusat Statistik, dari Kementerian Keuangan, dan lain sebagainya, itu jelas bahwa sawit ini berkontribusi sangat signifikan bagi perekonomian Indonesia,” papar Edi, saat ditemui Olenka, di Jakarta, baru-baru ini.
Dari sisi devisa, lanjut Edi, industri sawit menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi negara. Bahkan, kontribusinya hanya berada di bawah komoditas batu bara.
“Baik itu kontribusi devisa dari ekspor yang mungkin tertinggi, atau kedua tertinggi setelah batu bara, kemudian juga kontribusi terhadap APBN serta dampak fiskal yang sangat signifikan,” ungkapnya.
Tak hanya soal angka makroekonomi, Edi juga menyoroti dampak sosial yang dihasilkan oleh industri ini. Ia menyebut, sektor sawit mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, baik secara langsung maupun tidak langsung.
“Sawit ini telah memberikan peluang untuk bekerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, hampir 17 juta jiwa. Dan ini sangat luar biasa, mungkin merupakan salah satu industri komoditas yang paling tinggi dalam menyerap tenaga kerja dan juga dampak multiplier-nya,” terangnya.
Lebih jauh, kata Edi, industri sawit dinilai berperan penting dalam membuka akses dan mendorong pembangunan di daerah terpencil.
Menurutnya, infrastruktur yang dibangun seiring pengembangan perkebunan sawit turut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
“Sawit telah memberikan manfaat nyata untuk pengembangan daerah terpencil dengan membuka infrastruktur dan akses ke wilayah-wilayah yang industri lain tidak bisa sentuh,” kata Edi.
Baca Juga: Pengembangan SDM Jadi Kunci Keberlanjutan Industri Sawit