Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut memicu perhatian publik karena akan berdampak ke masyarakat luas, termasuk yang berada di wilayah perdesaan.
Pasalnya, masih banyak kebutuhan masyarakat Indonesia yang bergantung pada barang impor, baik dalam bentuk produk jadi maupun bahan baku.
Baca Juga: Potret Pergerakan Mata Uang ASEAN atas Dolar AS, Rupiah Jadi Mata Uang Paling Tertekan!
Kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah berpotensi untuk memicu inflasi, melemahkan daya beli masyarakat, membatasi konsumsi, dan pada ujungnya adalah memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor nonmigas Indonesia pada periode Januari–Maret 2026 tercatat meningkat 10,01% secara year-to-date (ytd) menjadi US$41.522,4 juta. Nilai impor nonmigas terbesar berasal dari 10 negara berikut.
- China (US$22.016 juta)
- Australia (US$3.143,9 juta)
- Jepang (US$2.898,6 juta)
- Singapura (US$2.484,8 juta)
- Amerika Serikat (US$2.229,3 juta)
- Thailand (US$2.112,9 juta)
- Korea Selatan (US$1.873,9 juta)
- Malaysia (US$1.361,2 juta)
- Taiwan (US$1.144,2 juta), serta
- India (US$965,9 juta).
Penelusuran Olenka menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah juga berada dalam tren pelemahan terhadap mayoritas mata uang negara mitra dagang utama Indonesia tersebut.

Berdasarkan data per Senin, 18 Mei 2026, rupiah tercatat melemah terhadap 9 dari 10 mata uang negara asal impor terbesar Indonesia. Adapun rupiah hanya mencatat penguatan tipis terhadap mata uang India, yakni rupee, sebesar 0,64% ke level 183,37.
Dengan kondisi tersebut, penting bagi pemerintah untuk menjaga kestabilan nilai mata uang rupiah agar tidak berdampak negatif terhadap aktivitas ekonomi nasional.