dr. Tirta menambahkan, di Italia minuman serupa lebih dikenal dengan istilah lungo.

“Kalau kamu ke Italia, nyebutnya bukan Americano, tapi lungo. Espresso tapi sedikit ditambahkan air,” lanjutnya.

Meski begitu, dr. Tirta mengingatkan bahwa konsumsi kopi berlebihan tetap dapat berdampak buruk bagi kesehatan, terutama pada jantung.

“Kecuali kamu minum kopinya itu 3 liter per hari. Dijamin gangguan jantung,” tegasnya.

dr. Tirta juga mengingatkan bahwa orang dengan gangguan aritmia atau irama jantung perlu lebih berhati-hati dalam mengonsumsi kopi, khususnya espresso.

“Bagi orang yang memiliki gangguan aritmia atau gangguan irama jantung, memang konsumsi kopi, terutama yang espresso, harus dibatasi,” jelas dr. Tirta.

Sebagai alternatif, ia menyarankan kopi yang dicampur susu seperti latte atau cappuccino karena dinilai lebih ringan.

“Diizinkan jika kamu memakai campuran lain. Contoh latte, campur dengan susu, cappuccino juga bisa,” katanya.

Soal kebiasaan minum kopi, dr. Tirta mengaku lebih memilih kopi tanpa gula tambahan. Jika membutuhkan rasa manis, ia memilih mendapatkannya dari susu.

“Kalau saya, saya lebih nyaman meminum kopi itu tanpa gula. Jika harus pakai gula, biasanya gulanya didapatkan dari gula laktosa, yaitu susu,” ujarnya.

Di akhir penjelasannya, dr. Tirta mengakui kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas hariannya untuk membantu fokus dan menjaga energi saat bekerja.

“Kenapa saya habit-nya ngopi terus? Karena kopi ini membuat saya sudah dependent sebagai sarana untuk konsentrasi dan sebagai booster,” pungkasnya.

Baca Juga: Waspada Doomscrolling Bisa Picu Saraf Kejepit di Usia Muda, Ini Penjelasan Dokter Tirta