Ketua Dewan Pertimbangan Partai Ummat, Amien Rais mengatakan kondisi penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia sedang mengalami kemunduran parah. Dia bahkan mengatakan kondisi ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah Indonesia dan semuanya terjadi di era Presiden Prabowo Subianto.
Amien mengatakan masalah HAM tidak melulu soal kekerasan fisik yang dialami masyarakat, ekonomi negara yang compang camping dan menyengsarakan rakyat juga dikategorikan sebagai sebuah pelanggaran HAM yang sangat serius, kondisi seperti ini bisa diterjemahkan sebagai kesewenang-wenangan pemerintah terhadap rakyatnya sendiri.
Baca Juga: Megawati Blak-blakan Soal Isu Ijazah Palsu Jokowi: Dia Masuk PDI-P Cuma Modal KTP
"Situasi HAM mengalami erosi terparah zaman Prabowo ini, saya bisa mengatakan memang 30-35 persen rakyat kita di lapisan bawah memang masih bisa ketawa tetapi ketawa kecut," kata Amien dilansir Olenka.id Kamis (13/8/2026).
Amien menegaskan, kondisi ekonomi sekarang ini tidak bisa dianggap remeh lagi, masyarakat khususnya kelas menengah ke bawah sedang dalam kondisi yang serba sulit namun pemerintah terkesan menyangkal kondisi ini dengan klaim-klaim yang menyatakan kondisi ekonomi Indonesia baik-baik saja.
"Sebagian lagi ketawa menyeringai karena tidak sanggup sekedar menutup kebutuhan dasar mereka dalam kehidupan mereka," imbuhnya.
Amien kemudian menyinggung analisis media Belanda yang membahas kondisi ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo. Menurutnya, analisis tersebut tidak semestinya langsung dianggap sebagai serangan terhadap Indonesia, tetapi dapat dijadikan bahan untuk melihat kondisi ekonomi secara lebih objektif.
“Media cetak terkemuka di Belanda The Volkskrant membuat analisa perekonomian Indonesia di bawah Presiden Prabowo. Tajuknya berbunyi Is Indonesia of Wehner bangkrut? Apakah Indonesia sedang menuju kebangkrutan?," ujarnya.
Amien mengatakan analisa-analisa ekonomi seperti yang ditayangkan The Volkskrant seharusnya menjadi bahan evaluasi. Sebab kondisi seperti ini tidak hanya diutarakan media massa asal Belanda, namun sejumlah pakar dalam negeri juga telah lama menyoroti hal ini, tetapi sikap pemerintah justru terkesan acuh.
"Jurnal Belanda ini seharusnya kita jadikan peringatan bahwa kondisi ekonomi kita memang sedang tidak baik-baik saja. Hal ini sudah didengungkan oleh banyak pakar ekonomi kita dan kenyataan di lapangan pun kita rasakan," tegasnya.
Amien kemudian meminta Prabowo agar tidak menjadi pemimpin yang anti kritik. Menurut Amien pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menerima kritik sebagai masukan, bukan menyerang balik para pengkritik dengan tuduhan-tuduhan tak masuk akal seperti antek asing dan sebagainya.
"Jadi kita tidak usah kebakaran jenggot, kita terima sebagai masukan yang konstruktif. Tidak usah kita tuduh itu pihak asing yang tidak suka pada Indonesia, paling-paling yang percaya cuma Londo Ireng, model masa lalu, dan seterusnya," ujarnya.
Baca Juga: Megawati Murka Gegara PDI-P Dikatai Jadi Buzzer Penyeimbang: Bodoh, Nggak Pernah Baca Dia!
"Nah sikap yang paling baik memang kritik-kritik tajam itu kita dengar dan kita endapkan serta kita analisa untuk kita perbaiki sejauh kita bisa," tambahnya memungkasi.