Direktur PT Asia Agrinusa, Tendi Satrio, dalam wawancara mengatakan, "Pabrik ini mempekerjakan sekitar 15 orang di bagian produksi dan memberdayakan sekitar 50 petani. Ada seribu penerima manfaat yang tercatat sebagai pemegang saham. Mereka akan menerima dividen ketika pabrik menghasilkan keuntungan. Model ini memberi prioritas kepada petani binaan sebagai pemasok utama bahan baku."
Petani nanas yang terlibat merasakan dampak langsung. “Sudah dari tahun 90an jadi petani nanas. Sebelum ada Dompet Dhuafa kita jual ke tengkulak. Tengkulak seenaknya ngasih harga. Pas ada Dompet Dhuafa kita petani jadi bergairah lagi,” ujar seorang petani.
Pekerja harian juga merasakan perubahan ekonomi rumah tangga. Seorang ibu pekerja mengatakan bahwa pekerjaan di IKON memberi penghasilan harian antara seratus lima puluh ribu sampai dua ratus ribu. Ia mengatakan bahwa pekerjaan ini membantu banyak ibu rumah tangga di Cirangkong memiliki pendapatan stabil.
Catatan lapangan menunjukkan bahwa alur pengiriman nanas berjalan sejak pagi. Para petani membawa hasil panen ke pabrik. Proses sortir, pengupasan, pengolahan, hingga pengemasan berlangsung dengan standar kebersihan yang terjaga. Seluruh tahapan melibatkan tenaga kerja lokal yang sudah mengikuti pelatihan operasional mesin.
"Kami fokus memaksimalkan kapasitas produksi dan memperluas pasar. Pabrik ini bisa mengolah berbagai komoditas buah jika kebutuhan berubah" jelas Ahmad Juwaini.
Tendi menambahkan, “Desain pabrik fleksibel. Kami menyiapkan sistem yang mampu menangani berbagai jenis produk olahan buah tanpa menyisakan limbah."
IKON di Cirangkong menjadi contoh bagaimana zakat dan wakaf dapat menggerakkan ekonomi desa. Program ini menghadirkan peluang bagi petani, membuka lapangan kerja, memberi kepemilikan usaha bagi masyarakat, serta memperkuat industri pengolahan buah di Subang. Program ini diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi yang dapat diterapkan di banyak daerah lain.