Dalam mengurus kasus Jokowi, Tifa mengaku tak hanya mendedikasikan waktu, tenaga dan pikiran saja, ia mengaku bahkan merogoh kocek sendiri, dimana total anggarannya mencapai miliaran rupiah. 

"Artinya total 4 tahun saya meneliti ijazah ini. Ditambah 450 hari saya dikriminalisasi. Artinya 1.460 hari + 450 hari = 1.910 hari saya menghabiskan waktu untuk mengurusi ijazah ini. Berapa Miliar Rupiah saya keluarkan untuk berjuang dengan segala macam perjuangan ini. Keluar dari kantong sendiri! Tanpa bohir!,” ujarnya. 

"Hasil penelitian saya rampung dan bulan Agustus 2025 dan menjadi buku Jokowi's White Paper. Masih lagi ditambah saya berurusan dengan POLDA menjadi saksi, terlapor, tersangka, lalu terdakwa. Ditahan, disidang, kemudian setelah berjuang empat kali sidang duduk di kursi terdakwa. Kemudian 23 Juli 2026 status terdakwa saya dinyatakan batal demi hukum," tambahnya. 

Meski menyatakan hijrah dari polemik ijazah, Dokter Tifa memastikan dirinya tetap akan melawan apabila status bebas yang diperolehnya kembali terancam.

"Sekarang, ketika status bebas saya terancam dibatalkan, ya tentu saya harus melawan, dong. Saya bebas cuma tiga hari lalu tiba-tiba jadi terdakwa lagi dengan panggilan sidang. Ya harus saya lawan dong. Dengan apa? Ya dengan fasilitas hukum yang ada mulai dari Pra Peradilan. Maka saya mengajukan Pra Peradilan! Diizinkan Mahkamah Agung maka insyaAllah Rabu 12 Agustus 2026 saya berjuang lagi di sidang," imbuhnya.

Dokter Tifa juga meminta orang-orang yang selama ini memberikan komentar mengenai perjuangannya untuk turut memberikan dukungan nyata, salah satunya dengan membeli bukunya.

"Lalu kalian bantu saya apa selama ini? Beli buku saya kek. Borong buku biar saya tenang berjuang tanpa mikir dengan apa saya membiayai perjuangan ini. Jangan cuma jadi komentator bola di lapangan seakan jadi si paling berjuang," tuturnya.

"Bantu beli buku kagak. Datang temani saya bersidang kagak. Menghujat paling duluan. Kalah berani sama perempuan. Huh! Cemen!" tutup Dokter Tifa.