Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka menyindir keras Dokter Tifauzia Tyasumma atau Dokter Tifa yang baru-baru ini mengumumkan pensiun dari politik sekaligus menarik diri dari kasus ijazah Joko Widodo (Jokowi) yang sudah bertahun-tahun ia kawal.
Dedy membantah pernyataan Tifa yang mengaku mendurkan diri lantaran merasa tugasnya dalam kasus ini telah dituntaskan, ia mengatakan Tifa memilih minggat lantaran sudah terpojok sebab dari awal, kasus ini memang sudah tidak jelas. Segala tudingan mengenai keaslian ijazah sarjana dari Universitas Gadjah Mada (UGM) milik Jokowi tidak didasari bukti mumpuni.
"Dari awal memang makhluk ini bermasalah dengan membuat tuduhan yang tidak berdasarkan data yang akurat," ujar Dedy dalam sebuah cuitan di akun X pribadi miliknya dilansir Olenka.id Minggu (9/8/2026).
Tifa Dkk lanjut Dedy bahkan membuat tudingan secara serampangan dan membabi buta tanpa melihat langsung apa yang telah mereka persoalkan. Hasilnya mereka justru pusing sendiri ketika kasus ini benar-benar di bawa ke jalur hukum.
"Bahwa mereka ini ngga pernah melihat langsung apa yang mereka tudingkan. Hasilnya mumet sendiri," tandasnya.
Tifa Kesal Dikatai Pengecut
Pada sisi lain, dokter Tifa sangat jengkel ketika sejumlah pihak menganggap dirinya pengecut lantaran memilih mundur dari kasus ijazah Jokowi. Kesal dengan berbagai caci maki itu, Tifa lantas mengaku sempat ditawari Rp50 miliar untuk restorative justice dalam kasus ijazah Jokowi, namun ia dengan kesadaran penuh menolaknya.
"Saya mau berhijrah kok pada protes. Bahkan memaki saya pengecut. Bahkan sekarang ini isu mencuat saya dikatakan diam-diam ke Solo. Allahuakbar! Jika saya mau berdamai dengan Joko Widodo, akan saya terima tawaran itu jauh-jauh hari," katanya
"Dan saya buka transparan ini: Tawaran Restorative Justice kepada saya lengkap dengan paket Rp 50 M! Apakah saya ambil? TIDAK!" tambahnya.
Tifa menegaskan ia memilih menyudahi petualangannya di dunia politik dan kasus ijazah Jokowi lantaran merasa tugasnya sebagai peneliti sudah tuntas, bukan karena ia telah menyatakan berdamai atau menjadi pengecut.
"Lalu kalian masih bilang saya mundur, saya pengecut, saya pengkhianat. Bagaimana sih pikiran kalian? Hah??? Saya hijrah karena tugas saya sebagai peneliti sudah saya tunaikan. Tugas saya sebagai pejuang sudah saya tunaikan! Perjuangan saya selesai dengan eksepsi saya diterima dan saya bebas. Karena itu saya katakan: saya hijrah," tegasnya.
Tifa mengatakan jika ia mundur karena takut, maka keputusan itu seharusnya ia ambil setelah kasus ijazah Jokowi itu mengemuka, namun ia memilih konsisten mengawal kasus itu sejak 2022 lalu. Ia kembali membantah tudingan yang menyebut dirinya pengecut.
Baca Juga: Ijazah Jokowi Asli, Orangnya yang Palsu
"Saya Hijrah dari urusan Ijazah Jokowi. Karena saya memperjuangkan kebenaran ini sejak tahun 2022, jauh sebelum orang-orang lain melakukannya. Saya mengkaji, meneliti, mengobservasi dalam hening dan diam. Lalu mendadak viral karena saya dilaporkan polisi oleh Joko Widodo 30 April 2025," tuturnya.
Dalam mengurus kasus Jokowi, Tifa mengaku tak hanya mendedikasikan waktu, tenaga dan pikiran saja, ia mengaku bahkan merogoh kocek sendiri, dimana total anggarannya mencapai miliaran rupiah.
"Artinya total 4 tahun saya meneliti ijazah ini. Ditambah 450 hari saya dikriminalisasi. Artinya 1.460 hari + 450 hari = 1.910 hari saya menghabiskan waktu untuk mengurusi ijazah ini. Berapa Miliar Rupiah saya keluarkan untuk berjuang dengan segala macam perjuangan ini. Keluar dari kantong sendiri! Tanpa bohir!,” ujarnya.
"Hasil penelitian saya rampung dan bulan Agustus 2025 dan menjadi buku Jokowi's White Paper. Masih lagi ditambah saya berurusan dengan POLDA menjadi saksi, terlapor, tersangka, lalu terdakwa. Ditahan, disidang, kemudian setelah berjuang empat kali sidang duduk di kursi terdakwa. Kemudian 23 Juli 2026 status terdakwa saya dinyatakan batal demi hukum," tambahnya.
Meski menyatakan hijrah dari polemik ijazah, Dokter Tifa memastikan dirinya tetap akan melawan apabila status bebas yang diperolehnya kembali terancam.
"Sekarang, ketika status bebas saya terancam dibatalkan, ya tentu saya harus melawan, dong. Saya bebas cuma tiga hari lalu tiba-tiba jadi terdakwa lagi dengan panggilan sidang. Ya harus saya lawan dong. Dengan apa? Ya dengan fasilitas hukum yang ada mulai dari Pra Peradilan. Maka saya mengajukan Pra Peradilan! Diizinkan Mahkamah Agung maka insyaAllah Rabu 12 Agustus 2026 saya berjuang lagi di sidang," imbuhnya.
Dokter Tifa juga meminta orang-orang yang selama ini memberikan komentar mengenai perjuangannya untuk turut memberikan dukungan nyata, salah satunya dengan membeli bukunya.
"Lalu kalian bantu saya apa selama ini? Beli buku saya kek. Borong buku biar saya tenang berjuang tanpa mikir dengan apa saya membiayai perjuangan ini. Jangan cuma jadi komentator bola di lapangan seakan jadi si paling berjuang," tuturnya.
"Bantu beli buku kagak. Datang temani saya bersidang kagak. Menghujat paling duluan. Kalah berani sama perempuan. Huh! Cemen!" tutup Dokter Tifa.