Dokter Tifauzia Tyassuma alias  Dokter Tifa mendadak membuat  pengakuan mengejutkan setelah menyatakan pensiun dini dari politik, ia mengatakan dirinya sempat ditawari Rp50 miliar untuk restorative justice dalam kasus ijazah Joko Widodo (Jokowi). 

Pernyataan mengejutkan itu ia lontarkan sebagai respons atas pernyataan sejumlah pihak yang menganggapnya pengecut lantaran mundur dari politik dan kasus ijazah Jokowi yang sempat membuat dirinya menjadi tersangka. Tifa dengan tegas membantah isu yang menyebut dirinya mendatangi Jokowi di Solo dan meminta damai atas kasus tersebut. 

Baca Juga: Denny Indrayana Pasang Kuping Baik-baik! PSI Bilang Gibran Bisa Loncat Jadi Presiden

"Saya mau berhijrah kok pada protes. Bahkan memaki saya pengecut. Bahkan sekarang ini isu mencuat saya dikatakan diam-diam ke Solo. Allahuakbar! Jika saya mau berdamai dengan Joko Widodo, akan saya terima tawaran itu jauh-jauh hari," kata Dokter Tifa di akun X pribadinya dilansir Olenka.id Minggu (9/8/2026). 

"Dan saya buka transparan ini: Tawaran Restorative Justice kepada saya lengkap dengan paket Rp 50 M! Apakah saya ambil? TIDAK!" tambahnya. 

Tifa menegaskan ia memilih menyudahi petualangannya di dunia politik dan kasus ijazah Jokowi lantaran merasa tugasnya sebagai  peneliti sudah tuntas, bukan karena ia telah menyatakan berdamai atau menjadi pengecut. 

"Lalu kalian masih bilang saya mundur, saya pengecut, saya pengkhianat. Bagaimana sih pikiran kalian? Hah??? Saya hijrah karena tugas saya sebagai peneliti sudah saya tunaikan. Tugas saya sebagai pejuang sudah saya tunaikan! Perjuangan saya selesai dengan eksepsi saya diterima dan saya bebas. Karena itu saya katakan: saya hijrah," tegasnya. 

Tifa mengatakan jika ia mundur karena takut, maka keputusan itu seharusnya ia ambil setelah kasus ijazah Jokowi itu mengemuka, namun ia memilih konsisten mengawal kasus itu sejak 2022 lalu. Ia kembali membantah tudingan yang menyebut dirinya pengecut. 

"Saya Hijrah dari urusan Ijazah Jokowi. Karena saya memperjuangkan kebenaran ini sejak tahun 2022, jauh sebelum orang-orang lain melakukannya. Saya mengkaji, meneliti, mengobservasi dalam hening dan diam. Lalu mendadak viral karena saya dilaporkan polisi oleh Joko Widodo 30 April 2025," tuturnya.

Dalam mengurus kasus Jokowi, Tifa mengaku tak hanya mendedikasikan waktu, tenaga dan pikiran saja, ia mengaku bahkan merogoh kocek sendiri, dimana total anggarannya mencapai miliaran rupiah. 

"Artinya total 4 tahun saya meneliti ijazah ini. Ditambah 450 hari saya dikriminalisasi. Artinya 1.460 hari + 450 hari = 1.910 hari saya menghabiskan waktu untuk mengurusi ijazah ini. Berapa Miliar Rupiah saya keluarkan untuk berjuang dengan segala macam perjuangan ini. Keluar dari kantong sendiri! Tanpa bohir!,” ujarnya. 

"Hasil penelitian saya rampung dan bulan Agustus 2025 dan menjadi buku Jokowi's White Paper. Masih lagi ditambah saya berurusan dengan POLDA menjadi saksi, terlapor, tersangka, lalu terdakwa. Ditahan, disidang, kemudian setelah berjuang empat kali sidang duduk di kursi terdakwa. Kemudian 23 Juli 2026 status terdakwa saya dinyatakan batal demi hukum," tambahnya. 

Meski menyatakan hijrah dari polemik ijazah, Dokter Tifa memastikan dirinya tetap akan melawan apabila status bebas yang diperolehnya kembali terancam.

"Sekarang, ketika status bebas saya terancam dibatalkan, ya tentu saya harus melawan, dong. Saya bebas cuma tiga hari lalu tiba-tiba jadi terdakwa lagi dengan panggilan sidang. Ya harus saya lawan dong. Dengan apa? Ya dengan fasilitas hukum yang ada mulai dari Pra Peradilan. Maka saya mengajukan Pra Peradilan! Diizinkan Mahkamah Agung maka insyaAllah Rabu 12 Agustus 2026 saya berjuang lagi di sidang," imbuhnya.

Dokter Tifa juga meminta orang-orang yang selama ini memberikan komentar mengenai perjuangannya untuk turut memberikan dukungan nyata, salah satunya dengan membeli bukunya.

Baca Juga: Kata-kata Prabowo di Perayaan Ulang Tahun Mas Bahlil: Kepemimpinan Tidak Bisa Jadi Hadiah

"Lalu kalian bantu saya apa selama ini? Beli buku saya kek. Borong buku biar saya tenang berjuang tanpa mikir dengan apa saya membiayai perjuangan ini. Jangan cuma jadi komentator bola di lapangan seakan jadi si paling berjuang," tuturnya.

"Bantu beli buku kagak. Datang temani saya bersidang kagak. Menghujat paling duluan. Kalah berani sama perempuan. Huh! Cemen!" pungkasnya.