Board of Director PT Kalbe Farma Tbk periode 2015-2021, Djonny Hartono mengatakan transparansi gaji dalam sebuah perusahaan menjadi sesuatu yang sangat penting. Transparansi yang dimaksud bukan besaran gaji masing-masing karyawan melainkan sistem salary.

Dengan sistem upah yang terbuka, maka setiap karyawan tak perlu menebak-nebak besaran gaji rekan kerjanya sebab batas gaji sudah jelas di setiap divisi.

Baca Juga: Dua ‘Kesalahan’ Orang Tua yang Menghambat Nutrisi Anak Menurut dr. Mesty Ariotedjo

“Perusahaan punya struktur salary ya. misalnya setiap fungsi atau setiap bagian, setiap level, punya range. Kalau misalnya mengikuti standar, apakah UMP atau standar salary dari perusahaan itu sendiri. Oke, di entry level, berapa rangenya, Batas bawah hingga batas atas. Kemudian, di level staff, di level supervisor, di level junior major, dan seterusnya,” kata Djonny ketika berbincang dengan Olenka.id ditulis Kamis (18/6/2026).

Djonny melanjutkan, keterbukaan upah juga mencakup sistem penilaian kinerja masing-masing pegawai. Karyawan yang mampu mencapai performa maksimal dan selalu menuntaskan target perusahaan jelas punya perbedaan salary. Dengan demikian karyawan dapat memahami alasan seseorang memperoleh kenaikan gaji yang lebih besar dibandingkan rekan kerjanya.

“Kemudian, ada penilaian kinerja yang transparan. Artinya bahwa orang dihargai lebih karena apa? Karena punya kinerja yang baik. Setiap review, segala macam, sehingga pantas diberikan salary yang lebih baik,” katanya lagi.

Djonny juga menyoroti sistem kenaikan gaji. Dia mengatakan kebijakan ini tak semestinya bergantung pada kondisi ekonomi misalnya saja masalah inflasi.

Namun kebijakan menaikan gaji diukur dari sejumlah faktor performa seperti perusahaan, unit bisnis, divisi, hingga individu. Faktor-faktor tersebut membuat besaran penghasilan karyawan dapat berkembang berbeda seiring waktu meski memulai karier dari level yang sama.

"Salary increase, basic-nya misalnya inflation rate plus performance. Performance company, performance business unit, performance division, hingga performance individual," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya transparansi dalam skema insentif. Karyawan harus mengetahui indikator yang digunakan perusahaan untuk menentukan besaran bonus atau penghargaan yang diterima.

"Incentive scheme itu juga sama. Sistem. Artinya bahwa penilaiannya fair. Kalau mencapai 100 persen mendapat sekian, kalau growth sekian mendapat sekian," katanya.

Baca Juga: Reset MBG: Sistem Insentif SPPG Dirombak Total

Djonny menilai transparansi sistem akan mendorong karyawan lebih fokus meningkatkan kinerja dibandingkan menebak-nebak alasan di balik perbedaan penghasilan.

"Kalau tidak transparan, orang nebak-nebak. Padahal kita ingin setiap karyawan fokus pada kinerja. Karena perusahaan cukup fair, kenapa? Karena punya sistem penilaian," pungkasnya.