Dino menjelaskan, pemetaan wilayah operasi perusahaan kelapa sawit yang dilakukan secara akurat memungkinkan proses cross-check antara data titik api dan izin atau wilayah operasional perusahaan.
Menurut dia, mekanisme tersebut dapat menghasilkan bukti yang kuat ketika terjadi kebakaran di suatu wilayah.
“Karena semua wilayah operasi perusahaan kelapa sawit waktu itu sudah dipetakan dengan sangat akurat. Dengan demikian kita bisa tahu langsung sebenarnya titik-titik api ini ada di mana, dan kita bisa memetakan aksi dan pertanggungjawaban dari perusahaan kelapa sawit, karena bukti-buktinya juga sangat telak dan perusahaan yang terkait juga tidak bisa mengelak,” tutur Dino.
Dino berharap, teknologi yang pernah digunakan tersebut masih tersedia dan dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung penanganan karhutla.
Ia mengaku berasumsi teknologi cross-check antara titik api dan izin perusahaan tersebut masih berada di Istana.
“Saya berasumsi teknologi cross-check titik api dan izin perusahaan ini masih ada di istana, dan mudah-mudahan tidak terbengkalai,” ujar Dino.
Pria yang juga seorang diplomat karier serta mantan Duta Besar AS ini pun lantas menekankan bahwa keberadaan teknologi pemantauan semacam itu dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat respons pemerintah terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, ia berharap, teknologi tersebut dapat digunakan secara optimal oleh pemerintah, khususnya Presiden bersama kementerian dan lembaga yang memiliki kewenangan dalam penanganan karhutla.
“Saya berharap teknologi ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin, dan dapat dipergunakan oleh Presiden, dan semua menteri dan lembaga yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan,” kata Dino.
Baca Juga: Dino Patti Djalal: Leadership Adalah Skill yang Bisa Dilatih, Bukan Sekadar Bakat