Pakar kebijakan luar negeri sekaligus Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, mengungkap adanya teknologi yang pernah digunakan saat dirinya bekerja di lingkungan Istana untuk memantau kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Menurut Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia yang menjabat dari 14 Juli 2014 hingga 20 Oktober 2014 itu, teknologi tersebut memungkinkan pemerintah mengetahui lokasi titik panas atau hotspot secara sangat presisi, bahkan hingga radius sekitar satu meter.
Tidak hanya menunjukkan lokasi kebakaran, kata dia, teknologi itu juga dapat digunakan untuk mencocokkan titik api dengan wilayah operasional perusahaan.
Dino menuturkan, saat itu seluruh wilayah operasi perusahaan kelapa sawit telah dipetakan secara akurat. Dengan demikian, ketika muncul titik api, pemerintah dapat segera mengetahui lokasi kebakaran sekaligus perusahaan yang wilayah operasinya berada di titik tersebut.
“Taukah Anda, dulu sewaktu saya bekerja di istana, ada teknologi di suatu ruangan khusus, di mana kalau ada kebakaran hutan, di manapun di Indonesia, maka melalui teknologi ini kita akan tahu di mana hotspot-nya persis sampai titik pohon yang terbakar dengan akurasi 1 meter,”tegas Dino, dalam sebuah video sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribdinya @dinopattidjalal, Rabu (16/9/2026).
Dino menilai, kemampuan tersebut menjadi penting karena data titik api dapat langsung dikaitkan dengan peta wilayah perusahaan. Dengan sistem tersebut, pemerintah memiliki dasar untuk menelusuri lokasi kebakaran dan meminta pertanggungjawaban pihak yang wilayah operasinya berkaitan dengan titik api.
“Dan lebih penting lagi dengan teknologi ini, kita bisa tahu titik kebakaran itu terjadi di lahan perusahaan mana,” katanya.
Baca Juga: Karhutla dan Asap Lintas Negara, Begini Penjelasan Guru Besar Hukum Lingkungan UI
Dino menjelaskan, pemetaan wilayah operasi perusahaan kelapa sawit yang dilakukan secara akurat memungkinkan proses cross-check antara data titik api dan izin atau wilayah operasional perusahaan.
Menurut dia, mekanisme tersebut dapat menghasilkan bukti yang kuat ketika terjadi kebakaran di suatu wilayah.
“Karena semua wilayah operasi perusahaan kelapa sawit waktu itu sudah dipetakan dengan sangat akurat. Dengan demikian kita bisa tahu langsung sebenarnya titik-titik api ini ada di mana, dan kita bisa memetakan aksi dan pertanggungjawaban dari perusahaan kelapa sawit, karena bukti-buktinya juga sangat telak dan perusahaan yang terkait juga tidak bisa mengelak,” tutur Dino.
Dino berharap, teknologi yang pernah digunakan tersebut masih tersedia dan dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung penanganan karhutla.
Ia mengaku berasumsi teknologi cross-check antara titik api dan izin perusahaan tersebut masih berada di Istana.
“Saya berasumsi teknologi cross-check titik api dan izin perusahaan ini masih ada di istana, dan mudah-mudahan tidak terbengkalai,” ujar Dino.
Pria yang juga seorang diplomat karier serta mantan Duta Besar AS ini pun lantas menekankan bahwa keberadaan teknologi pemantauan semacam itu dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat respons pemerintah terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, ia berharap, teknologi tersebut dapat digunakan secara optimal oleh pemerintah, khususnya Presiden bersama kementerian dan lembaga yang memiliki kewenangan dalam penanganan karhutla.
“Saya berharap teknologi ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin, dan dapat dipergunakan oleh Presiden, dan semua menteri dan lembaga yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan,” kata Dino.
Baca Juga: Dino Patti Djalal: Leadership Adalah Skill yang Bisa Dilatih, Bukan Sekadar Bakat