Di sisi lain, kata Prof. Zubairi, terdapat pula faktor pembekuan darah dalam tubuh yang berjumlah hingga 13 jenis.

Gangguan pada faktor ini bisa menyebabkan kondisi yang berbeda, seperti hemofilia, di mana darah justru menjadi terlalu encer dan mudah menyebabkan perdarahan.

“Jadi sekali lagi yang disebut darah kental bisa karena berbagai faktor, semuanya memudahkan timbulnya stroke sama jantung,” tegas Prof. Zubairi.

Berbeda dengan darah kental, lanjut Prof. Zubairi, tekanan darah tinggi atau hipertensi tidak berkaitan dengan komposisi darah, melainkan tekanan aliran darah terhadap dinding pembuluh.

“Kalau tekanan darah, itu ya tekanan. Artinya bukan zat di dalamnya, tapi tekanannya,” jelasnya.

Saat ini, tekanan darah di atas 130/80 mmHg sudah dikategorikan tinggi, dan semakin tinggi angkanya, semakin besar pula risiko komplikasi.

Dalam kondisi ekstrem, tekanan darah bisa mencapai 200/130 mmHg, yang sangat berbahaya dan berpotensi memicu stroke, baik akibat perdarahan maupun penyumbatan.

Stroke akibat perdarahan, kata dia, biasanya terjadi ketika pembuluh darah pecah, sementara stroke akibat sumbatan terjadi karena adanya bekuan darah yang menghambat aliran.

Karena itu, Prof. Zubairi mengingatkan pentingnya mengenali gejala dan bertindak cepat. Dalam kasus stroke, terdapat periode emas atau golden period yang sangat menentukan keberhasilan penanganan.

“Kalau kita ragu-ragu apakah kita stroke atau tidak, harus segera ke rumah sakit. Karena ada golden period, ada waktu beberapa jam yang kalau diberikan pengobatan khusus, maka stroke ataupun jantung itu bisa tertolong banget,” tandasnya.

Baca Juga: Keputihan Tak Kunjung Sembuh, Benarkah Dipicu Pasangan ‘Jajan’ di Luar? Ini Penjelasan Dokter Ahli