Dalam percakapan sehari-hari, istilah darah tinggi dan darah kental kerap digunakan secara bergantian. Padahal, menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM., keduanya merupakan kondisi yang berbeda, meski sama-sama dapat meningkatkan risiko penyakit serius seperti stroke dan serangan jantung.

Prof. Zubairi menjelaskan bahwa darah pada dasarnya terdiri dari berbagai komponen, mulai dari sel darah merah, sel darah putih, trombosit, hingga plasma. Semua komponen ini memiliki tingkat kekentalan atau viskositas tertentu.

“Kalau kita bicara darah, di dalamnya ada sel darah merah, darah putih, trombosit, dan plasma. Nah itu kekentalannya tertentu, ada viskositasnya tertentu,” jelas Prof. Zubairi, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Minggu (29/3/2026).

Istilah darah kental sendiri, kata Prof. Zubairi, merujuk pada kondisi ketika komposisi atau sifat darah berubah sehingga lebih mudah membeku.

Hal ini bisa dipicu oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah peningkatan D-dimer, yang sempat banyak dibahas pada masa pandemi Covid-19.

“Kalau misalnya karena Covid sebagian menjadi darahnya kental, D-dimernya tinggi. Itu bisa menyebabkan pembekuan darah, artinya memudahkan timbulnya stroke ataupun jantung,” ungkap Prof. Zubairi.

Namun, penyebab darah kental tidak hanya berkaitan dengan D-dimer. Prof. Zubairi menekankan bahwa kadar hemoglobin yang terlalu tinggi juga bisa menjadi faktor.

Dalam kondisi normal, hemoglobin berada di kisaran 14 g/dL. Tetapi pada beberapa orang, angkanya bisa mencapai 22 g/dL.

“Kalau didiamkan akan memudahkan stroke sama jantung karena darahnya kental akibat sel darah merahnya banyak,” katanya.

Selain itu, jumlah trombosit yang berlebihan juga dapat meningkatkan risiko pembekuan. Normalnya, jumlah trombosit berada di kisaran 200–400 ribu. Namun, pada kondisi tertentu, angkanya bisa melonjak hingga 1,5 juta.

“Itu harus dikurangkan karena memudahkan timbulnya bekuan, stroke, jantung ataupun bekuan darah yang lain,” tambahnya.

Baca Juga: Benarkah Hubungan Intim Bisa Picu ISK? Ini Penjelasan Dokter Ahli

Di sisi lain, kata Prof. Zubairi, terdapat pula faktor pembekuan darah dalam tubuh yang berjumlah hingga 13 jenis.

Gangguan pada faktor ini bisa menyebabkan kondisi yang berbeda, seperti hemofilia, di mana darah justru menjadi terlalu encer dan mudah menyebabkan perdarahan.

“Jadi sekali lagi yang disebut darah kental bisa karena berbagai faktor, semuanya memudahkan timbulnya stroke sama jantung,” tegas Prof. Zubairi.

Berbeda dengan darah kental, lanjut Prof. Zubairi, tekanan darah tinggi atau hipertensi tidak berkaitan dengan komposisi darah, melainkan tekanan aliran darah terhadap dinding pembuluh.

“Kalau tekanan darah, itu ya tekanan. Artinya bukan zat di dalamnya, tapi tekanannya,” jelasnya.

Saat ini, tekanan darah di atas 130/80 mmHg sudah dikategorikan tinggi, dan semakin tinggi angkanya, semakin besar pula risiko komplikasi.

Dalam kondisi ekstrem, tekanan darah bisa mencapai 200/130 mmHg, yang sangat berbahaya dan berpotensi memicu stroke, baik akibat perdarahan maupun penyumbatan.

Stroke akibat perdarahan, kata dia, biasanya terjadi ketika pembuluh darah pecah, sementara stroke akibat sumbatan terjadi karena adanya bekuan darah yang menghambat aliran.

Karena itu, Prof. Zubairi mengingatkan pentingnya mengenali gejala dan bertindak cepat. Dalam kasus stroke, terdapat periode emas atau golden period yang sangat menentukan keberhasilan penanganan.

“Kalau kita ragu-ragu apakah kita stroke atau tidak, harus segera ke rumah sakit. Karena ada golden period, ada waktu beberapa jam yang kalau diberikan pengobatan khusus, maka stroke ataupun jantung itu bisa tertolong banget,” tandasnya.

Baca Juga: Keputihan Tak Kunjung Sembuh, Benarkah Dipicu Pasangan ‘Jajan’ di Luar? Ini Penjelasan Dokter Ahli