Sebaliknya, lanjut Andri, ketika keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam berlangsung tanpa kejelasan tujuan yang dirasakan langsung oleh para prajurit, semangat juang pun melemah.

“Tapi waktu di Vietnam, dia enggak tahu kenapa saya ada di sini. Dikirim di sini, teman saya mati. Jadi purpose-nya enggak clear,” ujarnya.

Dari contoh tersebut, Andri menyimpulkan bahwa kejelasan tujuan menjadi faktor pembeda yang sangat menentukan keberhasilan.

“So I think one of the key important thing is what is the purpose. Dan kita harus temukan purpose bisnis kita, baik itu corporate maupun di setiap business unit,” tukas Andri.

Namun, kata Andri, merumuskan purpose saja tidak cukup. Tantangan berikutnya adalah memastikan tujuan tersebut benar-benar dipahami dan dijalankan secara konsisten.

Menurutnya, komunikasi yang jelas dan konsistensi perilaku pemimpin menjadi kunci.

“Nah sekarang mengkomunikasi supaya itu clear adalah benar-benar walk the talk, build the culture,” ujar Andri.

Dalam konteks bisnis pelumas di Shell Indonesia, Andri mengungkapkan bahwa organisasi yang dipimpinnya memiliki ambisi besar untuk meningkatkan posisi Indonesia di kancah global.

Ia mengakui bahwa sebelumnya, Indonesia dipandang sebagai pemain kecil dalam peta global pelumas. Namun, dengan purpose yang kuat, arah itu ingin diubah.

“Kita punya ambisi, kita punya purpose ya kita ingin Indonesia itu mendunia. Karena di global sales itu Indonesia mungkin, di global lubricant Indonesia dulu itu negara kecil. Terus kita punya purpose, kita mau Indonesia menjadi mendunia,” tegas Andri.

Baca Juga: Mengulik Fakta Shell Indonesia Melepas Bisnis SPBU