Pola perjalanan wisata mengalami pergeseran dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya liburan identik dengan destinasi populer dan kenyamanan, kini wisatawan mulai mempertimbangkan dampak dari perjalanan yang dilakukan. Konsep sustainable travel atau pariwisata berkelanjutan pun tidak lagi sekadar tren, melainkan menjadi preferensi baru dalam menentukan pilihan perjalanan.
Perubahan ini tercermin dari meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan dan sosial. Data industri menunjukkan mayoritas wisatawan kini tidak hanya ingin menikmati perjalanan, tetapi juga memberikan dampak positif.
Baca Juga: Pelaku Pariwisata Nantikan Kembalinya Izin Aktivitas Pelayaran di Labuan Bajo
Sebanyak 63% wisatawan telah familiar dengan konsep sustainable travel, dan 67% di antaranya pernah menginap di akomodasi ramah lingkungan. Hal ini menandakan bahwa konsep keberlanjutan mulai diadopsi secara nyata.
Tak hanya itu, motivasi wisatawan juga bergeser. Sekitar 69% wisatawan terdorong untuk berkontribusi terhadap lingkungan, sementara 49% ingin mendukung komunitas lokal.
Baca Juga: Negara Asia Tenggara Jadi Favorit Wisatawan Indonesia Selama Liburan Idulfitri
Selain itu, 41% wisatawan mencari pengalaman yang lebih bermakna selama perjalanan. Keputusan berwisata tidak lagi semata-mata didasarkan pada lokasi atau harga, tetapi juga pada nilai dan dampak yang dihasilkan.
Co-Founder & Chief Marketing Officer tiket.com, Gaery Undarsa, mengatakan bahwa perubahan ini menunjukkan meningkatnya kesadaran wisatawan terhadap dampak industri pariwisata.
“Perjalanan sekarang bukan hanya soal destinasi, tetapi juga tentang dampak yang bisa kita berikan. Banyak wisatawan sudah menyadari bahwa industri perjalanan cukup boros, sehingga mereka ingin ikut berkontribusi terhadap lingkungan,” ujarnya kepada Olenka pada Rabu (22/04/2026).
Baca Juga: Sinergi Belanja dan Wisata Jadi Strategi Jaga Konsumsi Domestik Saat Momentum Festive
Fenomena ini menunjukkan bahwa sustainable travel telah melampaui tahap pertimbangan dan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Wisatawan kini lebih selektif dalam memilih akomodasi dan destinasi yang menerapkan praktik berkelanjutan, seperti pengelolaan limbah, efisiensi energi, serta keterlibatan dengan masyarakat lokal.
“Jika akomodasi memiliki aspek keberlanjutan yang jelas, respons wisatawan cenderung lebih positif. Ini menjadi sinyal bahwa arah industri memang bergerak ke sana,” tambah Gaery.
Perubahan preferensi ini turut mendorong industri pariwisata beradaptasi. Platform perjalanan digital seperti tiket.com, melalui inisiatif tiket Green, mulai menyoroti akomodasi yang menerapkan prinsip keberlanjutan untuk memudahkan wisatawan dalam membuat pilihan yang lebih bertanggung jawab.
Baca Juga: tiket.com Hadirkan JUMBO Holideals: Wujudkan Liburan Sekolah Penuh Petualangan dan Imajinasi
Di sisi lain, pelaku industri perhotelan seperti Artotel Group juga mulai mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam operasionalnya.
Chief Operating Officer Artotel Group, Eduard Rudolf Pangkerego, menilai bahwa konsep pariwisata berkelanjutan kini berkembang menjadi praktik perjalanan yang lebih bertanggung jawab.
“Kita tidak hanya berbicara tentang sustainable tourism, tetapi juga responsible traveling. Wisatawan ingin tetap nyaman, tetapi tidak merusak destinasi yang mereka kunjungi,” ujarnya.
Sementara itu, destinasi seperti Rumah Atsiri Indonesia menghadirkan pendekatan yang lebih mendalam dengan menggabungkan edukasi, eksplorasi, dan keberlanjutan dalam pengalaman wisata.
Director & Founder Rumah Atsiri Indonesia, Natasha Clairine, mengatakan bahwa ekspektasi wisatawan kini turut berubah.
“Dulu tamu ingin dilayani, sekarang mereka ingin terlibat, ingin tahu, dan menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri,” katanya.
Ia menambahkan bahwa keberlanjutan merupakan proses yang terus berkembang. “Sustainability bukan tentang menjadi yang paling sempurna, tetapi bagaimana kita bisa terus menjadi lebih baik setiap tahunnya,” ujarnya.
Meski demikian, transformasi menuju pariwisata berkelanjutan masih menghadapi sejumlah tantangan. Perubahan perilaku, baik dari sisi industri maupun wisatawan, tidak dapat terjadi secara instan. Kebiasaan lama, seperti penggunaan plastik sekali pakai atau ekspektasi layanan berlebihan, masih menjadi hambatan yang perlu diatasi melalui edukasi dan pendekatan bertahap.
Di sisi lain, generasi muda dinilai memiliki peran besar dalam mendorong adopsi sustainable travel. Dengan akses informasi yang luas dan tingkat kesadaran lingkungan yang lebih tinggi, mereka menjadi penggerak perubahan dalam industri pariwisata.
Baca Juga: Rekomendasi 5 Negara Paling Aman untuk Wanita Solo Traveler
Ke depan, sustainable travel diproyeksikan tidak lagi menjadi alternatif, melainkan standar baru dalam berwisata. Wisatawan tidak hanya mencari pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga bermakna dan bertanggung jawab.
Dalam konteks ini, perjalanan tidak lagi sekadar tentang tujuan, melainkan juga tentang dampak yang ditinggalkan. Pergeseran ini menandai babak baru dalam industri pariwisata, di mana kesadaran dan tanggung jawab menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap perjalanan.