Program Belanja di Indonesia Aja (BINA) kembali digelar menyambut rangkaian momentum hari besar seperti Imlek, Ramadan, dan Lebaran. Tahun ini, BINA dijalankan bersamaan dengan program Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) sebagai strategi memperkuat konsumsi domestik sekaligus menjaga perputaran ekonomi pada periode awal tahun.
Dalam peluncuran BINA edisi Lebaran di Mall Kota Kasablanka, sinergi sektor ritel dan pariwisata ditegaskan sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan dalam mendorong transaksi domestik.
Deputi Bidang Marketing & Partnership Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), Agung Tianara, menyebut BINA sebagai gerakan belanja nasional yang telah konsisten berjalan selama satu dekade dan dirancang menjaga momentum ekonomi sejak awal tahun.
Baca Juga: Peluncuran BINA Indonesia Great Sale 2025 Dorong Belanja dan Pergerakan Ekonomi Akhir Tahun
“BINA ini adalah satu gerakan belanja nasional yang diinisiasi HIPPINDO bersama Kementerian Perekonomian. Kita ingin berperan aktif dalam peningkatan ekonomi kreatif di Indonesia melalui belanja di dalam negeri,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kuartal pertama sebagai fondasi kinerja ekonomi sepanjang tahun.
“Kuartal pertama ini sangat krusial. Kita harus mengejar di awal tahun supaya kuartal dua dan tiga tetap bisa lebih baik hingga akhir tahun,” katanya.
Baca Juga: Ketua Umum HIPPINDO Bicara tentang Permasalahan Impor, Apa Itu?
Wakil Ketua Umum HIPPINDO, Fetty Kwartati, menegaskan bahwa kolaborasi BINA dan BBWI bukan sekadar kampanye promosi, melainkan strategi konkret agar mobilitas wisata berdampak langsung pada transaksi domestik.
“Wisata dan belanja itu satu kesatuan. Setiap pergerakan wisatawan pasti diikuti aktivitas makan dan belanja. Inilah mengapa sinergi BBWI dan BINA menjadi sangat relevan untuk memborong transaksi domestik,” ujarnya.

BINA edisi Lebaran dijadwalkan berlangsung pada Maret dengan melibatkan lebih dari 800 merek dan sekitar 80 ribu gerai di 24 provinsi. Target transaksi dipatok melampaui Rp50 triliun, meningkat dibanding realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp32,7 triliun atau sekitar 90 persen dari target.
Dari sisi pengelola pusat perbelanjaan, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyatakan kesiapan penuh menyambut lonjakan aktivitas Ramadan dan Lebaran.
Ketua Bidang Program Promosi DPP APPBI sekaligus General Manager Mall Kota Kasablanka, Agung Gunawan, mengatakan berbagai persiapan telah dilakukan.
Baca Juga: HIPPINDO Bicara Dampak Perpindahan Kegiatan Impor 7 Komoditas ke Indonesia Timur
“Momentum lebaran merupakan salah satu periode tertinggi bagi sektor ritel. Menyatakan kesiapan penuh dalam menyambut Ramadan dan lebaran 2026. Anggota APPBI sekarang yang tersebar di seluruh Indonesia itu diikuti oleh pusat perbelanjaan di 24 provinsi. Telah melakukan berbagai macam persiapan mulai dari aspek operasional, keamanan, kenyamanan pengunjung, hingga koordinasi dengan tenan untuk menyiapkan program belanja yang menarik dan juga bahan makanan,” ujarnya.
Pemerintah menempatkan BINA sebagai salah satu instrumen strategis untuk menjaga konsumsi rumah tangga yang menyumbang sekitar 53,88 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Indeks Keyakinan Konsumen pada awal tahun tercatat berada di level optimistis 127.
Perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Analis Kebijakan Ahli Madya Darwin Tonggotua Siahaan, mengatakan sejumlah stimulus telah disiapkan untuk memperkuat daya beli.
Baca Juga: 412 Mal Ikut BINA Indonesia Great Sale 2025, Retail Optimistis Dongkrak Ekonomi Q4 hingga Awal 2026
“Berbagai kebijakan tersebut dirancang sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung kelancaran mobilitas nasional selama hari besar keagamaan nasional, Idul Fitri 2026, serta mendorong perputaran konsumsi di berbagai daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Bambang Wisnubroto, mengingatkan pentingnya menjaga ritme konsumsi setelah periode festive.
“Kita harus memastikan tidak ada celah kelesuan konsumsi setelah masa festive awal tahun ini berakhir. Dan tentunya pemerintah bersama asosiasi akan terus bergerak menjaga geliat ekonomi tetap bergairah hingga periode festive berikutnya,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Staf Ahli Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata, Masruroh, menekankan pentingnya mendorong pariwisata berkualitas yang berdampak langsung pada belanja domestik.
“Pariwisata harus memberi manfaat. Jadi tidak hanya berkunjung, ketika berkunjung ke suatu daerah, apakah itu mudik atau libur lebaran, tapi tiketnya dikasih diskon, uangnya dibuat belanja. Artinya kualitas kita sebagai wisatawan di suatu daerah akan semakin kuat dengan daya beli kita,” ujarnya.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, BINA dan BBWI diharapkan menjadi pengungkit konsumsi domestik secara berkelanjutan, tidak hanya pada momentum hari raya, tetapi juga sepanjang tahun.